Studi Lapangan
Suasana pasar hewan saat itu sangat ramai, pembeli dan penjual ternak
berbaur saling melakukan transaksi.
Pasar hewan milik kabupaten itu dari halaman muka tampak lokasi parkir kendaraan pengunjung
pada sisi kiri. Pada sisi kanan yang
memiliki akses lebih mudah menuju pintu keluar, terdiri atas parkir kendaraan
pengangkut ternak. Pada sisi pinggir
lokasi parkir kendaraan pengunjung, terdapat beberapa kedai makanan. Sedangkan pada sisi
kanan terdapat kantor kesehatan ternak yang bertugas memberi verifikasi ternak
yang akan keluar hasil transaksi penjualan.
Kantor pasar hewan sendiri berada pada bagian tengah muka lokasi pasar
hewan. Masuk dari sisi kiri, akan ditemui
kompleks penjualan ternak dara. Tampak
seorang penjual sedang tawar menawar dengan seorang pembeli untuk seekor ternak
dara siap kawin, berkali-kali penjual menepuk ternak pada bagian belakang
sambil tangannya memegang pangkal ikatan ternak untuk mendongakkan ternak sehingga
ternak terlihat sehat dan trengginas.
Sementara pembeli sibuk mengitari ternak sambil mencermati baian per
bagian, kadang kala mencubit kulit atau mengelus-elus badan ternak. Negoisasi masih berlangsung alot ketika Arman
dan Pak Bambang melintas. Mereka rupanya
sedang melakukan survey ternak dipasar hewan.
Pak Bambang perlu mengajak Arman agar dapat memilih ternak dengan baik.
Pasar hewan merupakan lokasi transaksi ternak
sebagaimana layaknya pasar tradisional yang kita kenal. Pasar hewan di wilayah Jawa biasanya digelar dalam
hari pasaran Jawa (Pon, Wage, Kliwon, Pahing, atau Legi) atau juga hari biasa
(Senin – Minggu) dan dimulai sejak pagi hari – sore. Di proses lelang ternak
dikenal juga istilah “blantik” atau sosok yang menjadi bagian dari proses tataniaga ternak dan memang profesinya sebagai pedagang dan pembeli hewan ternak. Blantik ini biasanya memiliki modal cukup
dengan armada dan tim yang akan membawa sejumlah ternak ke pasar hewan yang
dibeli dari peternak didesa atau stok ternak mereka di rumah. Sebelum gelaran pasar hewan, biasanya mereka
berkeliling atau menjemput hewan ternak kepadapara ternak desa yang
berkeinginan menjual ternaknya. Para
blantik sangat mengenal kualitas ternak yang baik, sehingga dapat menjadi
supplier ternak atau pemberi referensi. Hubungan
mereka dengan Dinas Peternakan juga sangat baik karena selalu berhubungan dalam
permintaan keterangan sehat atau pengajuan pemeriksaan hewan ternak, terutama
hewan ternak yang dibawa lintas kota atau provinsi atau pulau. Mereka merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dengan pasa hewan, setidaknya sampai saat ini.
Saat itu masih pukul 10.00 WIB, Pak Bambang mengajak Arman masuk kedalam
kedai makanan yang terdapat disepanjang sisi lokasi penjualan ternak. Setelah masing-masing memesan kopi susu,
mereka mulai berdiskusi sambil memandang lokasi penjualan ternak. Pak Bambang memulai percakapan, “Pak Arman,
coba bapak perhatikan seluruh ternak yang ada di lokasi pasar hewan ini. Apa komentar bapak?”. “waduh Pak Bambang, saya jadi bingung memilih
ternaknya”, jawan Arman sambil mengelus-elus dagunya. Setelah menyeruput kopi susunya, Bambang
menceritakan tentang cara memilih ternak sapi perah.
Ciri-ciri ternak dara sapi perah yang
baik :
- Berumur antara 15 –
18 bulan
- Memiliki proporsi
tubuh yang baik khas sapi perah, bentuk tubuh seperti baji/trapezium
- Puting
berjumlah empat dan simetris dengan vena yang besar dan kulit ambing kendor
- Punggung
lurus dengan tinggi badan minimal 130 cm dan prakiraan bobot badan antara
200 – 250 kg
- Tidak
mengidap penyakit menular yang mengganggu reproduksi, seperti Brucellosis
- Kondisi
organ reproduksi baik, dilakukan pemeriksaan melalui palpasi alat reproduksi
- Kondisi
tracak ternak rapi dan kuat
- Matanya
bercahaya, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup
lebar
- Berasal
dari induk yang memiliki produksi baik
- Pundak
tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan
pinggul lebar - Sehat dan tidak cacat
Ciri-ciri ternak laktasi yang baik :
- Berumur antara 36 –
42 bulan
- Memiliki proporsi
tubuh yang baik khas sapi perah, bentuk tubuh seperti baji/trapezium
- Puting
berjumlah empat dan simetris dengan vena yang besar dan bentukambing yang
proporsional dan besar
- Punggung lurus
- Tidak
mengidap penyakit menular yang mengganggu reproduksi, seperti Brucellosis
- Kondisi
organ reproduksi baik, dilakukan pemeriksaan melalui palpasi alat
reproduksi. Memiliki catatan
persalinan normal
- Kondisi
tracak ternak rapi dan kuat
- Matanya
bercahaya, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup
lebar
- Catatan
produksi pada laktasi sebelumnya baik
- Pundak
tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan
pinggul lebar - Sehat dan tidak cacat
Ciri-ciri ternak pejantan yang baik :
- Umur sekitar 4-5
tahun
- Memiliki tingkat kesuburan
tinggi
- Daya
menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya
- Berasal
dari induk dan pejantan yang baik
- Besar
badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang
baik
- Kepala
lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat
- Muka
sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar
- Paha rata dan cukup terpisah
- Dada
lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar
- Badan
panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar
- Sehat,
bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.
Pak Bambang menjelaskan
tentang cara memilih ternak dengan jelas dan detail. Arman merasa semakin yakin untuk segera
mengisi kandang dan memulai beternak.
Tidak terasa sudah hamper satu jam mereka duduk dikedai makanan dan
sudah mencicipi soto dan beberapa potong penganan. Kemudian mereka bangkit dan keluar untuk
mengamati jenis ternak lain yang dijual di pasar hewan, seperti pedet lepas
sapih, ternak laktasi, ternak pejantan, dan dara siap kawin atau dara bunting. Disisi lain pasar hewan terdapat juga satu
lokal khusus untuk menjual ternak kambing atau domba. Sambil berteduh dibawah pohon, Pak Bambang
kembali menerangkan tentang ternak domba.
Ciri untuk
calon induk:
- Tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, tubuh besar, tapi tidak terlalu gemuk.
- Jinak dan sorot matanya ramah.
- Kaki lurus dan tumit tinggi.
- Gigi lengkap, mampu merumput dengan baik (efisien), rahang atas dan bawah rata.
- Dari keturunan kembar atau dilahirkan tunggal tapi dari induk yang muda.
- Ambing simetris, tidak menggantung dan berputing 2 buah.
Ciri untuk
calon pejantan :
- Tubuh besar dan panjang dengan bagian belakang lebih besar dan lebih tinggi, dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif, dan memiliki libido (nafsu kawin) tinggi.
- Kaki lurus dan kuat.
- Dari keturunan kembar.
- Umur antara 1,5 sampai 3 tahun.
Aktivitas mereka
terjeda dengan waktu dzuhur dan makan siang, kemudian kembali ke pasar hewan
dan mengamati akhir transaksi. Sambil duduk di depan tempat menjual rumput
gajah dan memandang kegiatan di pasar hewan, Pak Bambang menyenggol sedikit Arman
sambil berkata, “Pak Arman, saya kasih tips nih. Waktu terbaik untuk memutuskan pembelian
adalah saat menjelang sore”. “Maksud Pak Bambang?”, sambut Arman kepo. “Begini
Pak, kalau Bapak ingin memilih ternak, Bapak lakukan survei dan tandai ternak, pemilik
atau blantik, serta posisinya. Menjelang sore, PakArman akan saksikan apakah
ternak itu benar sehat atau segar. Bagi ternak yang sehat, maka tubuhnya akan
tetap terlihat sehat dan bugar, tetapi kalau ternaknya tidak sehat, akan
terlihat lemas dan tidak bergairah”, terang Pak Bambang. Arman terlihat
manggut-manggut sambil mencamkan perkataan Pak Bambang sebagai referensi. Setelah dirasa cukup, mereka memutuskan
untuk kembali pulang, karena pada pukul 14.00 WIB, Pak Bambang memiliki agenda
pertemuan dengan Sekolah Menengah Pertanian jurusan Peternakan yang akan
melakukan praktik kerja di perusahaan SUSU SEHAT. Sebelum meninggalkan pasar hewan, Arman
menyempatkan diri membeli topi cowboy dan sepasang cemeti untuk oleh-oleh Bimo.
------ bersambung LAKONKU ADALAH PETANI #9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar