Selasa, 14 April 2020

LAKONKU ADALAH PETANI #8

sambungan dari LAKONKU ADALAH PETANI #7


Studi Lapangan

Suasana pasar hewan saat itu sangat ramai, pembeli dan penjual ternak berbaur saling melakukan transaksi.  Pasar hewan milik kabupaten itu dari halaman muka tampak lokasi parkir kendaraan pengunjung pada sisi kiri.  Pada sisi kanan yang memiliki akses lebih mudah menuju pintu keluar, terdiri atas parkir kendaraan pengangkut ternak.  Pada sisi pinggir lokasi parkir kendaraan pengunjung, terdapat beberapa kedai makanan. Sedangkan pada sisi kanan terdapat kantor kesehatan ternak yang bertugas memberi verifikasi ternak yang akan keluar hasil transaksi penjualan.  Kantor pasar hewan sendiri berada pada bagian tengah muka lokasi pasar hewan.  Masuk dari sisi kiri, akan ditemui kompleks penjualan ternak dara.  Tampak seorang penjual sedang tawar menawar dengan seorang pembeli untuk seekor ternak dara siap kawin, berkali-kali penjual menepuk ternak pada bagian belakang sambil tangannya memegang pangkal ikatan ternak untuk mendongakkan ternak sehingga ternak terlihat sehat dan trengginas.  Sementara pembeli sibuk mengitari ternak sambil mencermati baian per bagian, kadang kala mencubit kulit atau mengelus-elus badan ternak.  Negoisasi masih berlangsung alot ketika Arman dan Pak Bambang melintas.  Mereka rupanya sedang melakukan survey ternak dipasar hewan.  Pak Bambang perlu mengajak Arman agar dapat memilih ternak dengan baik.  


Pasar hewan merupakan lokasi transaksi ternak sebagaimana layaknya pasar tradisional yang kita kenal.  Pasar hewan di wilayah Jawa biasanya digelar dalam hari pasaran Jawa (Pon, Wage, Kliwon, Pahing, atau Legi) atau juga hari biasa (Senin – Minggu) dan dimulai sejak pagi hari – sore. Di proses lelang ternak dikenal juga istilah “blantik” atau sosok yang menjadi bagian dari proses tataniaga ternak dan memang profesinya sebagai pedagang dan pembeli hewan ternak.  Blantik ini biasanya memiliki modal cukup dengan armada dan tim yang akan membawa sejumlah ternak ke pasar hewan yang dibeli dari peternak didesa atau stok ternak mereka di rumah.  Sebelum gelaran pasar hewan, biasanya mereka berkeliling atau menjemput hewan ternak kepadapara ternak desa yang berkeinginan menjual ternaknya.  Para blantik sangat mengenal kualitas ternak yang baik, sehingga dapat menjadi supplier ternak atau pemberi referensi.  Hubungan mereka dengan Dinas Peternakan juga sangat baik karena selalu berhubungan dalam permintaan keterangan sehat atau pengajuan pemeriksaan hewan ternak, terutama hewan ternak yang dibawa lintas kota atau provinsi atau pulau. Mereka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pasa hewan, setidaknya sampai saat ini.
Saat itu masih pukul 10.00 WIB, Pak Bambang mengajak Arman masuk kedalam kedai makanan yang terdapat disepanjang sisi lokasi penjualan ternak.  Setelah masing-masing memesan kopi susu, mereka mulai berdiskusi sambil memandang lokasi penjualan ternak.  Pak Bambang memulai percakapan, “Pak Arman, coba bapak perhatikan seluruh ternak yang ada di lokasi pasar hewan ini.  Apa komentar bapak?”.  “waduh Pak Bambang, saya jadi bingung memilih ternaknya”, jawan Arman sambil mengelus-elus dagunya.  Setelah menyeruput kopi susunya, Bambang menceritakan tentang cara memilih ternak sapi perah.

Ciri-ciri ternak dara sapi perah yang baik  :
  1. Berumur antara 15 – 18 bulan
  2. Memiliki proporsi tubuh yang baik khas sapi perah, bentuk tubuh seperti baji/trapezium
  3. Puting berjumlah empat dan simetris dengan vena yang besar dan kulit ambing kendor
  4. Punggung lurus dengan tinggi badan minimal 130 cm dan prakiraan bobot badan antara 200 – 250 kg
  5. Tidak mengidap penyakit menular yang mengganggu reproduksi, seperti Brucellosis
  6. Kondisi organ reproduksi baik, dilakukan pemeriksaan melalui palpasi alat reproduksi
  7. Kondisi tracak ternak rapi dan kuat
  8. Matanya bercahaya, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar
  9. Berasal dari induk yang memiliki produksi baik
  10. Pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan
    pinggul lebar
  11. Sehat dan tidak cacat
Ciri-ciri ternak laktasi yang baik  :
  1. Berumur antara 36 – 42 bulan
  2. Memiliki proporsi tubuh yang baik khas sapi perah, bentuk tubuh seperti baji/trapezium
  3. Puting berjumlah empat dan simetris dengan vena yang besar dan bentukambing yang proporsional dan besar
  4. Punggung lurus
  5. Tidak mengidap penyakit menular yang mengganggu reproduksi, seperti Brucellosis
  6. Kondisi organ reproduksi baik, dilakukan pemeriksaan melalui palpasi alat reproduksi.  Memiliki catatan persalinan normal
  7. Kondisi tracak ternak rapi dan kuat
  8. Matanya bercahaya, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar
  9. Catatan produksi pada laktasi sebelumnya baik
  10. Pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan
    pinggul lebar
  11. Sehat dan tidak cacat
Ciri-ciri ternak pejantan yang baik  :
  1. Umur sekitar 4-5 tahun
  2. Memiliki tingkat kesuburan tinggi
  3. Daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya
  4. Berasal dari induk dan pejantan yang baik
  5. Besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik
  6. Kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat
  7. Muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar
  8. Paha rata dan cukup terpisah
  9. Dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar
  10. Badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar
  11. Sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.
Pak Bambang menjelaskan tentang cara memilih ternak dengan jelas dan detail.  Arman merasa semakin yakin untuk segera mengisi kandang dan memulai beternak.  Tidak terasa sudah hamper satu jam mereka duduk dikedai makanan dan sudah mencicipi soto dan beberapa potong penganan.  Kemudian mereka bangkit dan keluar untuk mengamati jenis ternak lain yang dijual di pasar hewan, seperti pedet lepas sapih, ternak laktasi, ternak pejantan, dan dara siap kawin atau dara bunting.  Disisi lain pasar hewan terdapat juga satu lokal khusus untuk menjual ternak kambing atau domba.  Sambil berteduh dibawah pohon, Pak Bambang kembali menerangkan tentang ternak domba.


Ciri untuk calon induk:
  1. Tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, tubuh besar, tapi tidak terlalu gemuk.
  2. Jinak dan sorot matanya ramah.
  3. Kaki lurus dan tumit tinggi.
  4. Gigi lengkap, mampu merumput dengan baik (efisien), rahang atas dan bawah rata.
  5. Dari keturunan kembar atau dilahirkan tunggal tapi dari induk yang muda.
  6. Ambing simetris, tidak menggantung dan berputing 2 buah.

Ciri untuk calon pejantan :
  1. Tubuh besar dan panjang dengan bagian belakang lebih besar dan lebih tinggi, dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif, dan memiliki libido (nafsu kawin) tinggi.
  2. Kaki lurus dan kuat.
  3. Dari keturunan kembar.
  4. Umur antara 1,5 sampai 3 tahun.

Aktivitas mereka terjeda dengan waktu dzuhur dan makan siang, kemudian kembali ke pasar hewan dan mengamati akhir transaksi. Sambil duduk di depan tempat menjual rumput gajah dan memandang kegiatan di pasar hewan, Pak Bambang menyenggol sedikit Arman sambil berkata, “Pak Arman, saya kasih tips nih.  Waktu terbaik untuk memutuskan pembelian adalah saat menjelang sore”. “Maksud Pak Bambang?”, sambut Arman kepo. “Begini Pak, kalau Bapak ingin memilih ternak, Bapak lakukan survei dan tandai ternak, pemilik atau blantik, serta posisinya. Menjelang sore, PakArman akan saksikan apakah ternak itu benar sehat atau segar. Bagi ternak yang sehat, maka tubuhnya akan tetap terlihat sehat dan bugar, tetapi kalau ternaknya tidak sehat, akan terlihat lemas dan tidak bergairah”, terang Pak Bambang. Arman terlihat manggut-manggut sambil mencamkan perkataan Pak Bambang sebagai referensi.  Setelah dirasa cukup, mereka memutuskan untuk kembali pulang, karena pada pukul 14.00 WIB, Pak Bambang memiliki agenda pertemuan dengan Sekolah Menengah Pertanian jurusan Peternakan yang akan melakukan praktik kerja di perusahaan SUSU SEHAT.  Sebelum meninggalkan pasar hewan, Arman menyempatkan diri membeli topi cowboy dan sepasang cemeti untuk oleh-oleh Bimo.



------ bersambung LAKONKU ADALAH PETANI #9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar