Kamis, 23 April 2020

LAKONKU ADALAH PETANI #12

Sambungan dari LAKONKU ADALAH PETANI #11

Generasi Baru, Tumbuh Cepat dan Sehat

Ayah … ayah … ayah !!”, tiba-tiba saja Bimo yang sejak tadi berada di kandang sapi berteriak-teriak sambil berlari menuju ayahnya yang sedang berada di lahan rumput, mengawasi Irwan, Sabil, dan Udin yang sedang memberi kompos pada lahan rumput.  Sontak, Arman kaget dan menyongsong anaknya dengan raut wajah khawatir, “ada apa Bimo?” sambil memegang erat kedua lengan anaknya, “atur nafasmu dulu nak”, pinta Arman.  “Ayah, cepat ke kandang sapi, ada sapi mau mati ayah.  Kelihatannya sapi itu keracunan permen karet”, masih tersengal-sengal Bimo berkata pada ayahnya.  “Permen karet?”, guman Arman.  Segera dia bangkit lalu memanggil Sabil dan Udin untuk ikut ke kandang, juga Irwan yang menyelesaikan pemberian kompos pada lahan rumput.  Sesampai di kandang dengan tergesa-gesa, mereka melihat seekor sapi sedang berbaring sambil merenggangkan seluruh kaki.  Arman segera mengamati bagian belakang ternak, senyum segera tersungging menggantikan kerut khawatir yang tampak sebelumnya.  Didekatinya Bimo dipegang bahu kanan anaknya tercinta sambil ia berkata.”Bimo, sapi kita akan beranak, yang kamu lihat tadi bukan permen karet tetapi wadah janin sapi”, jelas Arman.  Kemudian mereka berempat bersama-sama mengamati proses kelahiran, saat itu bungkus janin telah pecah dan air ketuban telah tumpah, diikuti dengan munculnya sepasang kaki dan moncong pedet, perlahan-lahan kepala ternak muncul, diikuti dengan segera tubuh dan terakhir kaki belakang.  Dengan cekatan Sabil meraih moncong pedet dan membersihkan lendir yang ada.  Udin membantu dengan mengangkat kaki belakang pedet dan menjunjungnya keatas, sementara Sabil memijat tubuh ternak dan membersihkan lendir yang ada ditubuh pedet.  Induk yang menyaksikan anaknya terlahir segera mendekat dan memijat tubuh anaknya dengan cara menjilati seluruh tubuh anaknya dengan penuh kasih sayang.  Jilatan ini juga dimaksudkan agar peredaran darah pedet semakin lancar.


“jenis kelaminnya apa Din?”, tanya Arman.  Sambil memperhatikan induk sapi yang sedang menjilati anaknya, Udin menjawab, “betina Pak, sehat”.  “Alhamdulillah, ucap syukur Arman, Generasi Baru telah lahir.  Dia akan menjadi calon induk baru menggantikan induknya”, ucap Arman

Setelah seluruh badang pedet bersih oleh jilatan induknya, Udin segera mengambil  kereta dorong, memasukkan pedet kedalamnya dan membawa pedet itu kekandang setelah sebelumnya pedet ditimbang dan tali pusar diikat serta diberi yodium tinctur.  Kandang pedet dialasi jerami kering dan selalu dikondisikan berada dalam keadaan suci hama.  Pedet dikondisikan dalam keadaan hangat dan kering.  Sementara Udin membawa pedet kekandangnya, Sabil segera mengambil ember perah, lalu mencuci ambing dan puting sapi.  Dengan sistem whole hand, perlahan ia memerah kolostrum, susu sapi yang berada dalam rentang waktu setelah beranak sampai tujuh hari setelah beranak, untuk segera diberikan kepada pedet.  Kolostrum yang kental dan berwarna sangat kekuningan karena mengandung kadar lemak, antibiotik, vitamin dan mineral tinggi itu lalu disaring dan dimasukkan kedalam botol susu kemudian diserahkan pada Udin untuk diberikan pada pedet.  Sesaat setelah beranak, diusahakan pedet mampu minum air susu minimal sebanyak 0,5 liter agar pedet mendapatkan energi dan antibiotik untuk melawan gangguan penyakit yang mungkin timbul.  Saat Udin memberikan air susu untuk pedet, Sabil segera memandikan ternak dan menggeser ternak dalam kelompok ternak laktasi dengan memberi catatan pada papan kecil diatas ternak sebagai kode kondisi ternak.  Arman juga baru saja melakukan injeksi hormon Oxytocin, preparat kalsium, dan vitamin pada induk.

Kemudian Sabil dan Udin menuju meja kantor dan mencatat seluruh kronologis kejadian serta perlakuan yang diterima ternak setelah bersalin, termasuk pemberian obat-obatan, hormon dan vitamin.  Arman memang selalu mendisiplikan operatornya untuk selalu melakukan pencatatan pada kejadian yang timbul selama kegiatan berlangsung.





------ bersambung LAKONKU ADALAH PETANI #13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar