Generasi Baru, Tumbuh Cepat dan Sehat
“Ayah … ayah … ayah !!”, tiba-tiba saja Bimo yang
sejak tadi berada di kandang sapi berteriak-teriak sambil berlari menuju
ayahnya yang sedang berada di lahan rumput, mengawasi Irwan, Sabil,
dan Udin yang sedang memberi kompos pada lahan rumput. Sontak, Arman kaget dan menyongsong anaknya
dengan raut wajah khawatir, “ada apa Bimo?” sambil memegang erat kedua lengan
anaknya, “atur nafasmu dulu nak”, pinta Arman. “Ayah, cepat ke kandang sapi, ada sapi mau
mati ayah. Kelihatannya sapi itu
keracunan permen karet”, masih tersengal-sengal Bimo berkata pada ayahnya. “Permen karet?”, guman Arman. Segera dia bangkit lalu memanggil Sabil dan
Udin untuk ikut ke kandang,
juga
Irwan yang menyelesaikan pemberian kompos pada lahan rumput. Sesampai di kandang dengan tergesa-gesa, mereka
melihat seekor sapi sedang berbaring sambil merenggangkan seluruh kaki. Arman segera mengamati bagian belakang
ternak, senyum segera tersungging menggantikan kerut khawatir yang tampak
sebelumnya. Didekatinya Bimo dipegang
bahu kanan anaknya tercinta sambil ia berkata.”Bimo, sapi kita akan beranak,
yang kamu lihat tadi bukan permen karet tetapi wadah janin sapi”, jelas
Arman. Kemudian mereka berempat bersama-sama
mengamati proses kelahiran, saat itu bungkus janin telah pecah dan air ketuban
telah tumpah, diikuti dengan munculnya sepasang kaki dan moncong pedet,
perlahan-lahan kepala ternak muncul, diikuti dengan segera tubuh dan terakhir
kaki belakang. Dengan cekatan Sabil
meraih moncong pedet dan membersihkan lendir yang ada. Udin membantu dengan mengangkat kaki belakang
pedet dan menjunjungnya keatas, sementara Sabil memijat tubuh ternak dan membersihkan
lendir yang ada ditubuh pedet. Induk
yang menyaksikan anaknya terlahir segera mendekat dan memijat tubuh anaknya
dengan cara menjilati seluruh tubuh anaknya dengan penuh kasih sayang. Jilatan ini juga dimaksudkan agar peredaran
darah pedet semakin lancar.
“jenis
kelaminnya apa Din?”, tanya Arman. Sambil
memperhatikan induk sapi yang sedang menjilati anaknya, Udin menjawab, “betina
Pak, sehat”. “Alhamdulillah, ucap syukur
Arman, Generasi Baru telah lahir. Dia
akan menjadi calon induk baru menggantikan induknya”, ucap Arman
Setelah seluruh
badang pedet bersih oleh jilatan induknya, Udin segera mengambil kereta dorong, memasukkan pedet kedalamnya
dan membawa pedet itu kekandang setelah sebelumnya pedet ditimbang dan tali
pusar diikat serta diberi yodium tinctur.
Kandang pedet dialasi jerami kering dan selalu dikondisikan berada dalam
keadaan suci hama. Pedet dikondisikan
dalam keadaan hangat dan kering. Sementara
Udin membawa pedet kekandangnya, Sabil segera mengambil ember perah, lalu mencuci
ambing dan puting sapi. Dengan sistem whole hand, perlahan ia memerah
kolostrum, susu sapi yang berada dalam rentang waktu setelah beranak sampai
tujuh hari setelah beranak, untuk segera diberikan kepada pedet. Kolostrum yang kental dan berwarna sangat
kekuningan karena mengandung kadar lemak, antibiotik, vitamin dan mineral
tinggi itu lalu disaring dan dimasukkan kedalam botol susu kemudian diserahkan
pada Udin untuk diberikan pada pedet.
Sesaat setelah beranak, diusahakan pedet mampu minum air susu minimal
sebanyak 0,5 liter agar pedet mendapatkan energi dan antibiotik untuk melawan gangguan
penyakit yang mungkin timbul. Saat Udin
memberikan air susu untuk pedet, Sabil segera memandikan ternak dan menggeser
ternak dalam kelompok ternak laktasi dengan memberi catatan pada papan kecil
diatas ternak sebagai kode kondisi ternak.
Arman juga baru saja melakukan injeksi hormon Oxytocin, preparat kalsium, dan vitamin pada induk.
Kemudian
Sabil dan Udin menuju meja kantor dan mencatat seluruh kronologis kejadian
serta perlakuan yang diterima ternak setelah bersalin, termasuk pemberian
obat-obatan, hormon dan vitamin. Arman
memang selalu mendisiplikan operatornya untuk selalu melakukan pencatatan pada
kejadian yang timbul selama kegiatan berlangsung.
------ bersambung LAKONKU ADALAH PETANI #13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar