Minggu, 12 April 2020

LAKONKU ADALAH PETANI #7


sambungan dari LAKONKU ADALAH PETANI #6



Cerita Sore

Sore itu seluruh anggota keluarga sedang berkumpul dan menyaksikan acara televisi Si Bolang yang sedang melakukan kunjungan ke sebuah peternakan sapi perah, saat itu Si Bolang sedang memperkenalkan jenis sapi perah.  Tiba-tiba Bimo berkata, “Ayah, seperti itukah sapi perah yang akan kita pelihara nanti?”.  “Betul nak, seperti itu”, jawab Arman.  “Kenapa warnanya hitam putih Yah?”, lanjut Bimo bertanya.  “Itu jenis sapi perah, nak”, jelas Arman kembali.  “ada beberapa jenis ternak sapi perah didunia ini”, Arman mencoba menjelaskan dengan detail.
Beberapa jenis ternak sapi perah :
 

 

 


 “Yah, Bimo boleh ikut perah sapi ya?”, pinta Bimo sambil tersenyum memperlihatkan gigi gerahamnya yang ompong satu buah, lucu sekali.  “tentu nak, asalkan nanti Bimo juga merawat sapi dengan baik ya dan jangan lupa belajar”, Arman mengajukan syarat.  “baik Ayah, Bimo akan merawat sapi dengan baik dan belajar rajin, kan Bimo ingin menjadi ahli peternakan, meneruskan usaha ayah”, kata Bimo sambil mengacungkan jempolnya.  “Gitu donk anak ayah, sekarang salam Ibu dan minta do’a agar cita-cita Bimo tercapai”.  Begitulah potret sebuah keluarga petani yang ceria.

Menggali Inspirasi
 Hari Minggu ini sangat ceria dan hangat.  Sinar matahari baru saja menguapkan embun yang menempel di dedaunan, cacing-cacing yang berada diujung rerumputan sudah bersembunyi dibalik akar rumput, takut terbakar oleh sinar ultraviolet.  Bunga matahari yang sudah setinggi satu setengah meter telah bermekaran dan memberi warna cerah alam serta memberi kesegaran atmosfer.  Tampak Bimo dengan pakaian cowboy berwarna cokelat – putih – hitam, hadiah ulang tahun ke delapan lalu, lengkap dengan topinya sedang berdiri dibelakang ayahnya yang baru saja memarkir mobil dimuka rumah.  “Ayah, Bimo sudah siap”, suara kecil renyah itu membuka percakapan.  Arman sambil tersenyum segera meraih putra pertamanya itu dan menggendongnyamasuk kedalam rumah, “cowboy cilik sudah siap pergi ke peternakan rupanya.  Baiklah, tunggu Pakde Bambang dulu ya nak.  Sebelumnya yuk kita sarapan”.  Sambil menuju ke meja makan yang sedang disiapkan Rina dengan menu khusus hari ini, bubur ayam.  “Bimo, ayo kita sarapan dulu.  Lihat, Ibu memasak bubur ayam kesukaannmu”, ajak Arman.  “Asyik, terimakasih Ibu”, kata Bimo sambil memeluk Ibunya.  Sambil memeluk putranya, Rina berkata,”Bimo harus makan yang banyak biar cepat besar dan tambah pintar.  Lihat adik Irma sudah selesai juga sarapan”.  Setelah sarapan dan masing-masing selesai meneguk habis susu kedelainya, berempat anak beranak menuju ke beranda rumah, menunggu kedatangan Pak Bambang yang berjanji akan mengajak ke peternakan SUSU SEHAT.
Setengah jam berlalu, sebuah mobil van masuk kehalaman rumah dan berhenti tepat disisi mobil Arman.  Setelah mesin dimatikan, keluarlah tiga orang dari dalam mobil.  “Assalamu’alaikum”, ternyata Pak Bambang diikuti Pak Jarwo dan Pak Sayid.  “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”, sambut Arman sambil berdiri dan menjabat hangat tangan masing-masing tamunya, sementara Rina menggendong Irma masuk untuk menyiapkan jamuan.  “Eh, ini Bimo ya?”, tanya Bambang sambil mendekat kearah Bimo.  “tadi Pakde kira siapa, ada cowboy kecil ..he..he..”.  “betul Pakde, ini Bimo”, kata Bimo sambil mendekat ketamu ayahnya dan tanpa ragu meraih tangan dan mencium punggung tangan.  Lalu Bimo melangkah keluar dan bermain seperti cowboy dihalaman
“Pak Bambang, Pak Jarwo dan Pak Sayid.  Terimakasih berkenan mengantarkan saya ke SUSU SEHAT”, kata Arman setelah semuanya duduk dikursi beranda rumah.  “Sama-sama Pak Arman, semoga Bapak dapat memiliki gambaran tentang proses ataupun kegiatan yang dilakukan di SUSU SEHAT dan dapat mengaplikasikan disini sesuai dengan karakteristik Desa Sukamaju.  Bukankah demikian anutan yang ada dalam konsep pertanian terpadu, Pak”, jawab Bambang.  “tepat sekali, Pak Bambang.  Hanya tetap saya memohon bimbingan dan arahan yang terus menerus”, pinta Arman. 
Pintu rumah utama terbuka dan Rina membawa empat cangkir teh melati dengan sepiring serabi dan sebaskom jeruk.  Setelah menghidangkan diatas meja, Rina mempersilahkan tamunya untuk mencicipi, “mari bapak-bapak, silahkan dicicipi, hasil panen sendiri”.  “terimakasih Ibu, wah senangnya Pak Arman punya Istri Bu Rina yang pintar masak”, canda Pak Jarwo diiringi gelak tawa yang lain.
“Pak Arman, boleh nanti kami melihat lokasi kandang?”, pinta Pak Sayid.  Arman menjawab, “tentu saja Pak Sayid.  Mohon nanti diberi arahan yang perlu lagi saya perbaiki.  Mari Bapak-bapak silahkan dicicipi”.  Setelah beberapa obrolan berita hangat tentang politik dan olah raga, berempat segera menuju ke calon kandang sapi dan domba.
Sesampai disana, terlihat beberapa bangunan sudah selesai.  Bangunan kantor dan gudang konsentrat serta pakan berserat sejajar dengan kantor terdapat kandang pedet, lalu berturut-turut kebelakang, lokasi penyimpanan peralatan pemerahan dan lokasi pencucian alat perah, selanjutnya kandang bersalin disisi kiri dan kandang lepas sapih – dara disisi kanan, kemudian kandang laktasi yang terbagi dua, sepuluh tambatan disebelah kiri dan sepuluh tambatan disebelah kanan, terpisahkan oleh tembok ada dua lokasi kandang pejantan masing-masing satu disisi kiri dan satu disisi kanan.  Padalokasi terpisah terdapat satu lokal untuk kandang karantina dan isolasi ternak yang mengalami gangguan kesehatan.
Disisi kiri lokasi kandang terdapat kolam penampungan limbah dengan model aliran air spiral menuju kelokasipenirisan dan bangunan dekomposisi pupuk organik. 
Seluruh instalasi penerangan telah dipersiapkan termasuk jalur instalasi air minum dan air pembuangan.  Tidak jauh di dekat lokasi dekomposisi kotoran ternak, ada kubah dengan kapasitas 12 m3 yang nantinya akan dijadikan sebagai instalasi biogas untuk keperluan memasak.  Selain penghematan, juga menjaga kualitas lingkungan dari pencemaran.
“Luar biasa Pak Arman, perencanaan dan penempatan lokasi kandang ini sangat sempurna”, puji Bambang dan diikuti dengan anggukan dua temannya.  “terimakasih, Pak. Hal ini juga karena arahan Bapak dan team di Dinas Peternakan”, jawab Arman.  “apalagi yang masih kurang Pak?”, kejar Arman pada Pak Bambang.  “Ehmm, menurut saya sudah sangat lengkap, Pak Arman, sempurna”, jawab Bambang.  “Bagaimana menurut Pak Jarwo dan Pak Sayid?”, Arman masih perlu menanyakan dua tamunya yang lain.  Pak Sayid berkata, “saya sama dengan Pak Bambang, sempurna”.  “kalau saya masih ada yang kurang, Pak”, sahut Pak Jarwo yang diikuti dengan mimik muka kaget kedua temannya.  “Kurang isinya Pak, sapi perah”, jawab Jarwo tergelak.  Rupanya Pak Jarwo termasuk orang yang sering bercanda, pantaslah kalau dia mendapat penghargaan sebagai petugas lapangan teladan tingkat Kabupaten.  Salah satu penilaiannya, karena mampu membawa diri dan suasana sehingga masyarakat petani senang dibimbing olehnya.
“Baiklah Pak Arman, mari kita berangkat ke SUSU SEHAT, sudah pukul 08.30 WIB, takut nanti kita kesiangan.  Perjalan kita cukup lama, hampir satu jam”, sambung Bambang memutus kunjungan ke calon lokasi peternakan pagi itu.  Arman menjawab, “mari Bapak-bapak, kita gunakan mobil saya saja bersama-sama kita kesana, kebetulan saya mau ajak Bimo untuk mengenal ternak sapi lebih dekat”.
Perjalanan pagi itu sangat lancar, membelah pagi yang ceria dengan hati yang gembira membuat nyaman suasana.  Tanpa terasa, mobil memasuki sebuah halaman luas setelah sebelumnya melewati jalan yang sisi kanan kirinya ditanamani rumput gajah.  Setelah mobil terparkir dengan baik, mereka turun.  Kedatangan mereka disambut seorang lelaki separuh baya tetapi terlihat raut semangat didampingi dua orang laki-laki lainnya.  “Selamat datang Pak Bambang.  Senang sekali kami dikunjungi Bapak dan teman-teman”, sambut lelaki itu sambil menjabat tangan Pak Bambang.  Jawab Bambang, “Terimakasih Pak Sofyan, senang dapat bertemu lagi dengan Bapak.  Sebelumnya maaf kami menganggu hari libur Bapak.  Saya kebetulan bersama-sama dengan Pak Arman dan putranya, Bimo; lalu Pak Jarwo, Kepala Unit Pelayanan Inseminasi Buatan Desa Marga Mulia; dan Pak Sayid, staf produksi di Dinas Peternakan Kabupaten”, sambil memperkenalkan anggota rombongan diikuti salam dan penyebutan nama masing-masing.  Setelah acara perkenalan selesai, mereka segera memasuki kandang setelah terlebih dahulu mereka mengganti sepatu dengan sepatu boot dan melewati semprotan disinfektan sebagai langkah pengamanan secara biologis (Biosecurity).
Memasuki lokal pertama, tampak kandang laktasi yang terbagi atas Laktasi Awal, Laktasi Pertengahan dan Laktasi Akhir.  Pak Sofyan memberi penjelasan, “saya melakukan pembagian fase laktasi ternak agar saya mudah melakukan pembagian kualitas pakan.  Pada Laktasi Awal, ternak saya berikan pakan dengan kualitas (protein kasar, energy dan kecernaan) terbaik untuk menopang produktivitas (melalui asupan langsung dan menjaga cadangan nutrisi) air susu dan proses pengembalian kondisi organ reproduksi dan kondisi tubuh, tentunya harga per kilogram cukup tinggi.  Memasuki Laktasi Pertengahan, pakan saya turunkan sedikit kandungan protein, sehingga harga pakan per kilogram lebih rendah.  Hal ini saya lakukan agar ternak tetap mendapat suplai nutrisi untuk produksi untuk menjaga tingkat produksi dan kondisi kebuntingan, karena diharapkan setelah 3 – 5 bulan setelah beranak, ternak kembali bunting.  Memasuki masa laktasi akhir, dimana produksi sudah mulai menurun dan tidak tergantung dari kualitas pakan sehingga ternak cukup diberikan pakan dengan kandungan Serat Kasar tinggi.  Selain itu pola pakan ini juga dilakukan untuk mencegah terjadingan pertumbuhan janin yang terlalu besar sehingg menyulitkan saat proses bersalin ternak”.
“Kondisi pakan berdasarkan fase produksi itu juga diatur jumlah pemberiannya.  Saat ternak sudah memasuki masa kering kandang (bunting > 7 bulan), kondisi pakan diberikan sama dengan ternak pada fase laktasi awal.  Hal ini dilakukan agar ternak memiliki cadangan makanan sehingga mampu memproduksi air susu yang banyak dan membantu pertumbuhan janin serta menambah energi saat beranak”, sambung Pak Bambang menjelasakan.  “Betul Pak Bambang, beliau adalah guru saya sehingga saya dapat melakukan usaha ternak dengan baik”, puji Pak Sofyan.  Arman mengkomentari, “itulah sebabnya Pak, saya banyak bertanya pada ahlinya”.
Lokasi perkandangan di Perusahaan SUSU SEHAT, terdiri atas :
a    Kandang Pedet
Kandang pedet sebaiknya berupa box (individu) atau group yang lantainya berupa panggung kayu yang tahan air untuk menjaga lingkungannya tetap kering.  Luas kandang sebaiknya berkisar 1,5 – 2 m2 / ekor.  Kandang pedet dapat dilengkap lokasi bermain pedet untuk meningkatkan performance pertumbuhan pedet.
Kandang Dara/Laktasi/Pedet lepas sapih
Untuk sapi dara, sapi produksi (perah dan potong) dapat menggunakan sistem kelompok atau individu.
1.   Kandang Individu
Pada sistem kandang individu lebar kandang untuk tiap ekor harus yang ideal sesuai dengan besar dan panjang sapi.  Diusahakan agar tempat minum satu tempat/dua ekor sapi dan tempat pakan satu tempat/ekor.  Lebar kandang diusahakan agar sapi tidak dapat berbaring melintang (dapat mengganggu sapi lainnya).
2.   Kandang kelompok
Ternak sapi dipelihara bersama-sama sejak pedet (pedet sapih).  Jika diisi sapi baru yang berumur lebih dari satu tahun, akan selalu bertengkar dan dapat merusak fasilitas kandang.  Lantai kandang harus dari beton dengan campuran yang baik dan tebal lantai minimal 10 cm.   Permukaan harus kasar tetapi tidak tajam agar sapi tidak mudah tergelincir.   Lebar tempat pakan sebaiknya 150-200cm agar sapi dapat makan bersama-sama dengan desain tempat pakan sebaiknya head – to head agar tidak ada pakan yang tumpah.   Desain tempat minum dibuat agar sapi tidak dapat berendam dan dapat memenuhi kebutuhan air minum sebanyak 50iter/ekor (sistem bak penampung dan bak pengatur dengan pengapung). dilengkap lokasi bermain pedet untuk meningkatkan performance pertumbuhan pedet.
c    Kandang Pejantan
Pejantan diperusahaan ini dipelihara secara individual, berjumlah sepuluh ekor, untuk menghindari perkelahian dan persaingan antar pejantan, kata Pak Sofyan.  Umur pejantan didalam kandang bervariasi, mulai dari satu tahun sampai dua tahun.  Pejantan yang dipelihara bukan merupakan pembesaran dari pedet yang lahir disana, tetapi dibeli dari pasar hewan saat berumur lepas sapih.  Model pemeliharaan dilakukan seefisien mungkin dengan memberikan konsentrat dan pakan berserat.  Pejantan yang telah berumur dua tahun kadang digunakan untuk mengawini betina yang berahi selain dilakukan juga perkawinan dengan cara Inseminasi Buatan.
     Kandang Isolasi
Merupakan kandang tempat penampungan ternak yang sedang mengalami gangguan penyakit dengan model pemeliharaan individual.  Lantai tetap menggunakan cor semen, hanya saja diatur sedemikian rupa sehingga dapat ditaburi alas yang biasanya menggunakan serbuk gergaji atau jerami padi.
     Kandang Bersalin
Terletak disebelah kandang pedet yang digunakan untuk memelihara ternak yang akan bersalin.  Kandang dibuat dengan ukuran lebih luas agar ternak dapat melakukan gerakan-gerakan lebih leluasa yang juga untuk memperlancar peredaran darah dan memudahkan persalinan.
     Kandang Jepit
Digunakan untuk perkawinan alam atau untuk penangana perawatan ternak, seperti pemotongan kuku, injeksi dan aktifitas lain untuk mendukung penampilan terbaik ternak
g   Kolam Dipping
Berupa sebentuk kolam selebar badan ternak dan dalam setinggi leher ternak yang disesuaikan dengan jenis ternak yang akan direndam, bila ternak dewasa – maka jumlah air yang dimasukkan lebih banyak dibandingkan dengan ternak pedet.  Sisi kolam diberi pagar besi untuk memudahkan penggiringan ternak, ternak akan menuruni tangga landai kemudian bidang datar dan kemudian tangga landai naik.  Air dicampur dengan desinfektan dan proses pemandian ternak dilakukan secara berkala untuk menjaga ternak dari gangguan ektoparasit yang menganggu.
      Kandang Pemerahan
Jumlah ternak yang diperah rata-rata sebanyak 150 ekor setiap hari, sehingga Pak Sofyan memilih melakukan pemerahan dengan menggunakan mesin.  Ternak digiring setiap pagi dan petang pada sebuah lorong menuju lokasi pemerahan yang terdiri atas dua sisi kanan – kiri, masing-masing lima ekor sehingga setiap kali pemerahan sepuluh ekor diperah bersamaan. 
i    Rumah Susu
Air susu yang diperah kemudian dialirkan ke tangki pendingin untuk mengawetkan air susu.  Dengan produksi minimal 1.500 liter per hari, perusahaan SUSU SEHAT memproduksi beberapa jenis produk olahan air susu, antara lain : Susu Pasteurisasi, Yoghurt, Karamel dan Keju.  Rumah susu ini sangat higienis dan terdapat laboratorium untuk melakukan pemeriksaan air susu.  Pabrik mini pengolahan air susu ini melakukan aktifitas sejak pagi sampai sore, dengan jumlah pesanan yang tetap kontinyu.
j    Padang Penggembalaan
      Ternak laktasi secara bergiliran mulai pukul 09.00 WIB saat musim kemarau dilepas ke padang gembalaan selama rata-rata dua jam sehari.  Luas padang gembalaan cukup digunakan untuk menampung 50 ekor ternak setiap kali gembalaan.  Padang gembalaan terbagi atas tiga bagian, dengan model rotasi arena selama ini, lokasi padang penggembalaan kurang diperhatikan secara baik.  Ternak dilepaskan begitu saja tanpa memperhatikan kondisi padang gembala yang rumputnya telah direnggut oleh ternak.  Pola rotasi padang gembalaan jarang dilakukan sehingga pertumbuhan rumput menjadi tidak seragam dan luasan padang rumput menjadi tidak seimbang dengan jumlah ternak.
     Hal yang lain adalah ternak yang dilepas begitu saja pada padang gembala tanpa memperhatikan beberapa faktor, antara lain  :
      1.  Status ternak (Laktasi, Dara, Pedet)
      2.  Luas padang gembala dengan jumlah ternak, sehingga ternak terlalu jauh berjalan dan menghabiskan energi
      3.  Rotasi padang gembala untuk menjaga kesuburan tanah
Kombinasi pemeliharaan ternak sapi perah antara model perkandangan dengan padang penggembalaan yang terencana – tersusun – terpola akan menghasilkan suatu siklus pemeliharaan yang teratur dan pola pengembangbiakan ternak yang terarah sehingga mampu menghasilkan ternak sapi perah yang memiliki populasi semakin meningkat, kualitas hasil pengembangbiakan yang baik dan kondisi padang gembalaan yang senantiasa terjaga kesuburannya
Lahan Hijauan Pakan Ternak
Jumlah ternak yang mencapai 130 ekor laktasi, 10 ekor pejantan, 100 ekor pedet sampai dara siap kawin membuat Pak Sofyan harus menyediakan lahan rumput yang cukup luas, minimal 10 ha agar rotasi penyediaan rumput gajah/raja tidak terganggu.  Beruntung Pak Sofyan memiliki lahan yang cukup luas, sekitar 20 ha, sehingga penyediaan lahan untuk penanaman rumput tidak menjadi masalah.  Dengan posisi kandang diatas dan lahan rumput dibawah lokasi kandang, maka air hasil cucian ternak dan kotoran ternak mengalir begitu saja ke lahan rumput.
     
Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB dan rombongan telah mendapatkan penjelasan yang cukup banyak dan detail dari Pak Sofyan.  Pak Bambang mewakili rombongan menyampaikan salam pamit, “Pak Sofyan, terimakasih sekali kami sudah diajak berkeliling dan melihat kondisi farm.  Saya mewakili teman-teman mohon diri dan sekali lagi, terimakasih atas perkenannya menerima kami”.  “Sama-sama Pak Bambang, Pak Arman, Pak Sayid, dan Pak Jarwo juga si cowboy kecil, Bimo.  Terimakasih juga atas kunjungannya, semoga tidak kapok berkunjung ke farm kami, dengan senang hati kami akan menerima”, balas Pak Sofyan.  Sebuah perjalanan yang menyenangkan, menginspirasi dan membawa nilai pendidikan yang luar biasa.


------- bersambung LAKONKU ADALAH PETANI #8


Tidak ada komentar:

Posting Komentar