Senin, 30 Maret 2020

LAKONKU ADALAH PETANI #1


Kokok ayam jantan baru saja usai, berganti dengan semburat cahaya matahari bulan April yang mulai menghangatkan bumi Desa Sukamaju serta kicauan burung menyambut pagi.  Sementara disebuah pekarangan yang asri berjongkok seorang yang mengenakan kaos putih bercelana komprang hitam lengkap dengan sepatu boot hijau tampak sedang mengais bedeng memindahkan benih cabai merah dari bak persemaian.  Selepas subuh tadi, Arman langsung bergegas menuju kelokasi persemaian yang merupakan sebuah bangunan tertutup paranet dan beratap plastik, berada tidak jauh dari rumahnya.  didalam bangunan berukuan 6x5 meter itu terdapat tiga deret rak persemaian dengan ukuran 1x1 meter sebanyak 2 buah dan 2x1 meter sebanyak 1 buah dengan bersusun dua.  Masing-masing susunan terdiri atas kotak-kotak yang diberi alas kawat ukuran 1x1cm dengan ketebalan pinggir kotak setebal 5cm, ukuran kotak itu sendiri 100x30cm.  Masing-masing kotak berisikan sekitar 750buah benih sehingga total rumah persemaian itu mampu menampung 45.000 buah benih.


Persemaian yang dilakukan Arman tidak dilakukan serentak, ia melakukan pengaturan pembenihan sehingga rotasi penanaman pada bedeng pertanaman akan lebih teratur dan terencana, juga dapat memutus siklus hama dan penyakit tanaman.  Saat ini ia baru saja menanam benih kedua ribu enamratus sembilan puluh dengan jarak penanaman 60x60cm, sebuah suara menghentikan kegiatannya. “Ayah”, sebuah panggilan hormat menembus gendang telinga Arman dan itu cukup membuatnya menghentikan aktifitas dan berdiri memandang sumber suara sambil menjawab, “Assalamu ‘alaikum anakku”.  “Wa’alaikum salam, Ayah.  Bimo pamit sekolah dulu ayah”, sambil mendekat, Bimo meraih tangan ayahnya dan mencium punggung tangan memohon restu agar dia dapat menunaikan tugas sebagai pelajar dengan baik dan kelak menjadi anak yang mampu menjadi kebanggaan keluarga.  “Hati-hati dijalan Bimo, selamat belajar.  Sudahkah kau sarapan?”, balas sang ayah bijak.  “Sudah ayah, Bimo juga sudah pamit Ibu, beliau sedang memandikan adik”.  “Baik anakku, salam ayah untuk Pak Harun”, antar sang ayah kepada anaknya.  Pak Harun adalah kepala sekolah di tempat Bimo belajar dan kebetulan adalah teman sekolah Arman di Institut Keguruan Negeri.  “Baik ayah, nanti Bimo sampaikan, Assalamu ‘alaikum”.  “Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh”, diiringi senyum dan sinar mata kebanggaan seorang ayah pada anaknya.  Begitulah keseharian Bimo sang putra tertua Amran berpamitan kepada ayahnya. 
Sosok Bimo telah hilang dari pandangan, kembali Amran menyebar pandangan pada 10 bedeng berukuran masing-masing 1,2x10meter yang terbentang dan sudah sembilan bedeng selesai ditanam.  Kuncup-kuncup tanaman cabai merah itu berayun-ayun mendongakkan daun menyongsong sinar matahari pagi yang memandikan mereka untuk memasak makanan melalui stomata dengan hijau daun (klorofil) yang bahan bakunya berasal dari serapan akar untuk disebarkan menjadi bunga dan buah.  Kembali Arman berjongkok dan meneruskan penanaman sisa benih yang ada sehingga genap sepuluh bedeng tertanami.

Bertanam Cabai Merah

Jarak tanam : 50-60 x 50-60 cm, model tumpang sari dan menghidari serangan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan jarak 100x100 cm
Jarak barisan/bedeng : 60-70cm
Sistem Pertanaman  : 

  1. Monokultur, satu jenis tanaman dengan jumlah dua larikan dalam satu bedeng
  2. Tumpang Sari, terbagi atas beberapa model : (1)      Larikan model domino setengah bedeng, ditengah-tengah tanaman cabai diberi tanaman lain dengan model berseling dengan tanaman utama, misalnya bawang merah, sawi, pakcoy green, bayam; (2) Larikan model domino, ditengah-tengah tanaman cabai diberi tanaman lain dengan model sejajar dengan tanaman utama, misalnya bawang merah, sawi, pakcoy green, bayam, dan (3) Larikan model renggang, seperti model monokultur dimana cabai ditanam pada dua larikan dan setelah beberapa baris diselingi dengan tanaman lain, misalnya bawang merah, sawi, pakcoy green, bayam

Bibit yang ditanam adalah bibit yang telah disemai dengan umur persemaian antara 30 – 45 hari.  Bibit ditanam pada bedeng yang telah diberi cendawan enthomopathogen, seperti Trichoderma spp. atau Gliocadium spp. untuk menghindari serangan fusarium dan phytopthora.  Pada masing-masing lubang tanam diberi tambahan 250 gram pupuk organik padat.
 Jumlah bibit tanaman dalam satu hektar luasan lahan tergantung pada jarak tanam
Jarak Tanam
Jumlah Tanaman
Keterangan
50-60 x 60-70 cm
25.000 - 30.000 buah
Monokultur
50-60 x 60-70 cm
25.000 - 30.000 buah
Tumpang sari modeldomino, domino setengah bedeng
50-60 x 60-70 cm
20.000 buah
Tumpang sari model renggang
100 x 100 cm
8.000 – 10.000 buah

70 x 100 cm
12.000 buah


        Penanaman sebaiknya dilaksanakan sore hari.  Tanaman sebaiknya diberi pelindung untuk menahan tanaman dari guyuran air hujan, sengatan sinar matahari langsung dan terpaan angin.  Penyiraman tanaman mutlak dilakukan untuk menjaga kelembaban lahan. 

Tanpa terasa pukul 07.30 WIB tertera pada jam digital yang disimpan dalam saku celana komprang Amran, menandai tertanamnya benih cabai ketigaribu.  Dipanggilnya Abdul, salah satu pekerja kebun yang saat itu sedang mempersiapkan benih caisim dan bayam.  “Abdul, tolong kamu teruskan menanam tumpang sari disela-sela cabai kemudian disiram dengan pupuk cair yang sudah saya buat di rumah persemaian.  Saya kembali kerumah.  Nanti kamu ingatkan Tono untuk memasang perangkap lalat buah pada tanaman tomat kita di blok C-12, jangan sampai kena serangan.  Saya kemarin sore sudah semprot dengan Beauverria bassiana, tolong biar diperiksa juga, saya sudah memberikan catatan pada buku harian.  Tetapi ada baiknya kamu ingatkan”, terang Arman kepada Abdul.  “Baik Pak, akan saya sampaikan dan setelah dikerjakan, saya akan ingatkan Tono untuk menuliskan laporan pada buku harian, Pak”, jawab Abdul.  “Terimakasih, Abdul”, pamit Arman.  Dibawanya bak persemaian, cangkul kecil dan sebotol air menuju ke belakang rumah.  Jarak lokasi penanaman yang sekitar 300 meter tidak memerlukan waktu lama bagi Arman untuk mencapai pintu belakang rumahnya yang disekitarnya berpagar bunga matahari yang mulai bermekaran.  Sebelum memasuki rumah, ia menuju ke rumah persemaian dan mencuci seluruh peralatan dan ditiriskan pada sebuah rak memanjang disisi luar bangunan persemaian.  Setelah mencuci sepatu boot, meniriskannya, berganti sandal jepit lalu mencuci kaki, perlahan handel pintu dibuka mengiringi salam menyejukkan, “Assalamu ‘alaikum”.  “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”, sebuah jawaban yang luar biasa mengisi relung pendengaran seisi rumah, menandakan kegembiraan atas rahmat Yang Maha Kuasa.  “Ayah”, sebuah pekik kecil anak umur 1,5 tahun menyambut kehadiran ayahnya dirumah. ”Wah, anak ayah sudah cantik”, sambut Arman menggandeng tangan anaknya seusai punggung tangannya menerima kecup hormat dari sang putri keduanya itu.  “Sudah pulang Yah?”, sambut merdu seorang istri pada suaminya.  “Alhamdulillah, Bu.  Penanaman cabai sudah selesai, ayah mau mandi dulu”.  “Baik Yah, Ibu siapkan sarapan dulu”, jawab sang istri sambil memberi senyum hangat.  Usai mandi dan melaksanakan shalat Dhuha, Amran menuju meja makan dan telah terhidang nasi goreng ikan teri dan lauk tempe goreng yang dibalur tepung dan tampak baru saja selesai dimasak serta setoples kerupuk udang.  “Ayo bu, sekalian kita sarapan.  Irma sudah tidur ya?”, ajak Amran.  “Mari yah.  Irma baru saja tidur selepas minum susu tadi”, sambut Rina dan tangannya mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi goreng ikan teri dan menyorongkannya kepada Arman dengan lembut.  “terima kasih, Bu”, sambut Arman menghargai bakti istrinya dan menambah piring dengan dua potong tempe dan satu kerupuk udang.  “Bismillah”, desau do’a terucap mengiringi sarapan keluarga pagi itu.
Usai sarapan, Amran masuk kembali kekamar dan mengganti kemeja batik dan sarung dengan kaos putih dan celana hitam komprang kembali, rupanya ia ingin kembali keladang.  Amran menuju meja makan dan meneguk segelas susu kedelai.  Susu kedelai itu adalah buatan Rina.

------- bersambung LAKONKU ADALAH PETANI #2

Jumat, 27 Maret 2020

Lekas Pulih Indonesia

Kembali sehat Indonesiaku 
Kembali tersenyum Indonesiaku 
Kembali ceria Indonesiaku 
Indonesia yang jaya 

#JanganLupaBerdoa 
#TetaplahBahagia

Jumat, 20 Maret 2020

23 Tahun Mengenal Pertanian Terpadu #SeriPertanianTerpadu

tanggal 18 Maret 1997 saya selesai Ujian Pendadaran yang artinya saya sudah sah menjadi seorang Sarjana Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Dua hari kemudian, sahabat yang menjadi tandem penelitian dan teman berinkubasi bisnis ternak ayam potong, Agustinus Setiawan selesai Ujian Pendadaran.
Kamipun menjadi duo Sarjana Peternakan yang siap menunggu Wisuda di bulan Mei 1997.

Setelah saya mengabari orang tua di Jakarta, saya berkontak dengan Bapak Ir. Suharto, MS. yang merupakan sponsor penelitian saya yang berjudul Penggunaan Probiotik StarbiO terhadap Produksi dan Berat Jenis Air Susu di BPTHMT, Baturraden. Beliau kemudian meminta saya untuk datang ke Solo. Saya sampaikan bahwa saya akan kesana bersama Gembus (panggilan akrab Agustinus Setiawan), deal !

Tanggap 20 Maret 1997 malam, kami berdua berangkat ke Solo menemui Pak Harto dengan bis malam dan sesampainya di Solo kami menuju ke Jl. Dr. Rajiman ke rumah beliau. Pertama kali sampai dirumahnya, kami cukup takjub dengan arsitektur rumah yang ala western cowboy, dengan ornamen kayu, lengkap dengan roda pedati serta tulisan ala rumah cowboy : The Suhartos.

Sekitar pukul 09.00 WIB, setelah sarapan kami diajak beliau pergi kekampus UNS. Oh ya, Pak Harto ini adalah dosen Jurusan Peternakan pada Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo. Sesampainya di kampus kami diminta menunggu sementara beliau menyelesaikan beberapa urusan. selesai dari Kampus UNS, Kentingan kami bergerak menuju "kandang" kata Pak Harto yang ternyata dari Kampus UNS kearah Timur menuju Kota Karanganyar. menjelang rel keretapi Palur, Pak Harto 'melamar' kami berdua untuk menjadi salah dua karyawannya di CV. Lembah Hijau Multifarm dengan jabatan 'sales' untuk produk yang dihasilkan LHM.

Gaes, tahu gak kalau saya nih seperti kena karma, kenapa tidak?
Penelitian saya thu tentang pakan, salah satu subjek kuliah yang menakutkan, tetapi akhirnya harus belajar lebih keras tentang pakan dan akhirnya berhasil melewati penelitian itu.
Cita-cita saya thu bukan menjadi sales, tahu gak kenapa? sales itu khan berhadapan dengan orang lain, berusaha meyakinkan calon pelanggan dan harus berhasil menjual produl, sementara saya thu kalau ketemu sama orang dulu sering 'mbrebes mili', mata berkaca" dan pengen nangis he he he
Ternyata takdir ini harus menerima menjadi seorang sales

Saat itu kami berdua masih belum memutuskan sampai kemudian kami sampai di kandang sapi perah milik Pak Harto di Dukuh Joho Lor, Desa Triyagan, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Mobil Mercy Tiger biru dibawa beliau melindas hamparan jerami yang sedang dijemur, dan kami diminta membuka pintu mobil untuk mencium aroma fermentasi jerami. Lalu kami diajak berkeliling keseluruh kandang, mulai dari kandang laktasi yang bersih, sampai kandang dara yang kotorannya memenuhi separoh badan ternak dan ternak tidur didalam kubangan kotorannya tetapi kotoran didalam kandang itu tidak bau. Sampai ke kandang pedet di atas kolam ikan patin dimana sebagian pakannya berasal dari plankton yang tumbuh dari perpaduan kompos dan probiltik.
Kamipun diajak ke tempat fermentasi jerami dan prosesing kompos serta lahan sawah yang menggunakan kompos dari kotoran ternak sapi.

Disitulah awal saya berkenalan dengan Pertanian Terpadu / Integrated Farming System 

Sekembalinya dari farm, kami lalu memberikan jawaban untuk menerima tawaran beliau sebagai bagian dari LHM, lalu beliau membawa kami ke farm yang lain di Dukuh Karang Galeng, Desa Karungan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. Selanjutnya kedua farm dikenal dengan nama LHM Research Station I untuk yang di Sragen dan LHM Research Station II di Sukoharjo. Sragen menjadi yang pertama karena disanalah cikal bakal Pak Harto memulai kegiatan bisnisnya.

Kami kemudian dikenalkan dengan personel LHM lainnya dan menginap di Hotel Kota, di Jl. Slamet Riyadi. Esok paginya kami dipanggil dan diberikan kunci mobil Isuzu Panther  Hi Grade warna merah dan dana operasional, kami diminta membantu aktifitas pemasaran di kota Purwokerto sambil menunggu wisuda. Gaya bangets khan, bawa mobil di kampus sambil bergerak memasarkan produk dan menunggu wisuda.  Kebanggaan lain adalah saat menjemput orang tua menghadiri wisuda dengan mobil, dimana waktu itu kejadian ini sangat luar biasa he he he.

Kisah saya berlanjut setelah lulus dari Universitas Jenderal Soedirman sebagai sekolah formal, saatnya saya masuk ke Universitas Kehidupan, dimana ujian datang setiap saat, tanpa ijazah, tidak ada wisuda, dan berharap akan berkah Allah SWT setiap saat.

Perjalanan karir di LHM memaksa saya untuk mengetahui dunia pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kehutanan, komunikasi, keSDMan, negoisasi, dan banyak hal.  Akhirnya sayabanyak belajar tentang Pertanian Terpadu, bagaimana dapat melakukan penerapan Integrated Farming di kebun kelapa sawit, kebun kelapa, peternakan sapi potong, ternak domba, ternak kambing, ikan lele, ikan patin, terima tamu, melayani tamu, tanaman hias, dan aktifitas yang luar biasa.

Pengalaman dan perjalanan dari waktu ke waktu menghasilkan banyak pelajaran, kesalahan, keteledoran, kelalaian, ketidaktahuan, kebiasaan buruk, keberhasilan, kesuksesan, kenyamanan, dan berbagai fenomena yang menjadi puzzle" penyusun bentuk kehidupan sampai saat ini.

Tidak terasa 23 tahun sudah berada di Universitas Kehidupan, dari bujangan sampai jadi kepala keluarga.  Terimakasih istriku, Asti Pramudiani yang bersabar menjadi tandem kehidupan yang sabar dan nerimo, makasih Mama.





  

Selasa, 17 Maret 2020

PERTANIAN, PETERNAKAN dan POTENSI ZAKAT #SeriPertanianTerpadu

Hallo gaessss, Salam Pertanian Terpadu

Profesi Petani dikenal sebagai profesi yang melulu mengadakan bahan pangan seperti beras dan jagung, iya gak sih? sementara Peternak lebih dikenal sebagai profesi yang akan menghasilkan produk telur, daging, dan air susu.
Padahal kedua profesi ini dari kacamata Pertanian Terpadu adalah profesi yang bisa dikerjakan bersama atau ditandemkan.

Masih ingatkhan Prinsip Pertanian Terpadu?
1. Merubah hasil samping pertanian menjadi pakan 
2. merubah hasil samping peternakan menjadi kompos

Prinsip Pertanian Terpadu

Kita coba ulas ya

Seorang petani yang memiliki sawah seluas 1 hektar akan menghasilkan Gabah Kering Panen (GKP) rerata 8,5 ton, dan digiling menghasilkan 5,1 ton beras bila harga per kilogram (nett) Rp9.500,00 maka seorang petani akan mendapatkan hasil Rp48.450.000,00 per satu periode panen. Bila biaya produksi sebesar Rp12.000.000,00 per periode akan menyebabkan seorang petani mendapatkan hasil bersih Rp36.450.000,00 atau bila tiga kali musim panen akan memperoleh pendapatan sebesar Rp109.350.000,00 setara dengan Rp9.112.500,00 per bulan. Ini kerens ya

Petani ini sudah mencapai nisab zakat sebesar 653kg beras atau 1 ton GKP.

jadi besaran zakatnya =
kalau menggunakan irigasi, kadar zakatnya 5% = Rp455.625,00 per bulan = Rp1.366.875,00 setiap kali panen
kalau menggunakan tadah hujan, kadar zakatnya 10% = Rp911.250,00 per bulan = Rp.3.645.000,00 setiap kali panen

Potensi Zakat
kalau di Indonesia ada 7.643.948 hektar, maka potensi zakat per bulan mencapai Rp.3.482.773.807.500,00 .... luar biasa, kalau 50%nya dapat kita gali maka ada potensi zakat sebesar Rp1.741.386.903.750,00 per bulan atau Rp20.896.642.800.000,00 per tahun

berkah sekali ya.

nha gaess, ternyata tidak hanya itu. Petani ini akan menghasilkan jerami yang jumlahnya setiap kali panen sekitar 5ton per hektar = 15ton per tahun. Kalau dibuat jerami fermentasi dan menyusut 20% akan menghasilkan sekitar 12.000kg jerami fermentasi.
Bila kemudian petani ini memelihara ternak sapi, maka satu hektar sawah itu cukup untuk = 12.000kg : 16kg/ekor/hari : 365 hari = 2 ekor ternak sapi atau 6,5 ekor ternak domba. Ternak domba dapat mengkonsumsi jerami, kalau ternak kambing tidak, karena ternak kambing lebih memilih memakan daun daripada jerami / rumput.

sekarang kita hitung potensi pupuknya
2 ekor ternak sapi akan menghasilkan 24kg kotoran ternak segar setiap hari dan bila diproses menjadi kompos akan menyusut 40% sehingga menjadi 14,4kg kompos per ekor perhari atau 5.000kg kompos per tahun.
Dua ekor ternak sapi akan menghasilkan urine sekitar 20liter, kalau dibuat pupuk cair akan menghasilkan 7.300liter pupuk cair per tahun.
Setiap hektar tanaman padi sawah memerlukan sekitar 1.500kg kompos sebagai pupuk dasar dan 200liter pupuk cair untuk setiap periode.
Jadi, kalau seorang petani memiliki 1 hektar sawah dengan 2 ekor ternak sapi, maka petani tersebut akan mampu secara mandiri menyediakan pupuk untuk kepentingan sawahnya sepanjang tahun, malah ada surplus kompos dan pupuk cair.
Bila kebutuhan pupuk itu sebesar 10% total biaya, maka nilai penghematan biaya per periode tanah adalah sebesar Rp1.200.000,00 atau Rp.3.600.000,00 per tahun atau Rp.360.000,00 per bulan

kalau sudah begini, maka pendapatan petani akan meningkat.
Tidak hanya itu, dua ekor ternak sapi yang dipelihara juga akan memberikan penghasilan sekitar Rp2.000.000,00 per bulan dengan catatan penggemukan selama 3 bulan, artinya petani itu akan memiliki turn over ternak sapi 8 ekor setiap tahun.

Sehingga bila dijumlahkan petani itu akan mendapatkan pendapatan sebesar :
|
Rp9.112.500,00 + Rp360.000,00 + Rp.2.000.000,00 = Rp11.472.500,00 per bulan. Fantastik khan?

Tidak hanya itu, Petani itu akan membuat lahan tetap terjaga kesuburannya karena menggunakan bahan organik sebagai pupuk, produktivitas juga akan meningkat, mesra alam, dan pastinya zakatnya semakin banyak, yang in syaa Allah memberi keberkahan bagi semesta.

coba tengok tentang LEISA

asik khan gaes, demikian sedikit model Pertanian Terpadi antara lahan sawah dengan peternakan. Kita bertemu dengan model Pertanian Terpadu  yang akan datang



Minggu, 15 Maret 2020

Sesuatu yang Belum Pernah Dibayangkan

Bekerja Di Rumah 
Bersekolah Di Rumah 
Berdiam Di Rumah 
Bersama Di Rumah 
Tidak Kemana-mana, hanya Di Rumah

Kejadian ini bisa jadi tidak pernah dibayangkan, bahkan diimpikan, sampai akhirnya keadaan memaksa kita melakukannya. Setidaknya ada 14 hari kebersamaan yang dirindukan itu akhirnya datang.  

Sang Ayah, ada di rumah, bekerja on line dirumah 
Sang Ibu, ada dirumah, tidak arisan dan tidak bersosialita 
Sang Anak, ada dirumah, mengerjakan tugas guru dari rumah.
Sampai saatnya makan siang, mereka berkumpul di meja makan, masak masakan Ibu, berdo'a dipimpin Ayah, penuh senyum dan tawa, penuh keakraban, dan penuh kebahagiaan. 

Setidaknya ada fenomena menarik, banyak himbauan, seminar, wacana, kisah, artikel, dan seabreg tentang kebersamaan bersama keluarga di rumah, dan saat inilah prakteknya. 

Nikmatilah dan syukuri, kapan lagi bisa bersama disalam rumah. Bisa beberes rumah, bisa membersihkan rumah, bisa tidur siang bersama, menikmati acara-acara bersama, tidak bepergian, dan tentunya menjadi bahagia. 

Untuk lingkungan, polusi akan berkurang, hiruk pikuk akan menurun, embun akan datang, kabut akan melingkupi perumahan, dan udara segar menjadi atmosfer terbaik.  

Tetap sehat, selalu berdo'a, dan selamat bersama keluarga.


#JanganLupaBerdoa 
#TetaplahBahagia

Sabtu, 14 Maret 2020

Tentang Soto #SeriKuliner

Hallo gaes, kayaknya enak nih kita ngobrol tentang makanan.  
Siapa sih yang gak tahu tentang soto?  Racikan makanan kaya kaldu dan rempah dengan berbagai ingredient yang khas dan memanjakan selera.  
Sudah gitu, banyak lagi macamnya.  

Misalnya Soto yang ada di Solo dan sekitarnya, makanan berkuah kaldu ayam atau sapi yang kental merendam nasi, kecambah, daun seledri, dan ditambah potongan daging ayam atau sapi. Dinikmati bersama kecap dan sambal serta kerupuk karak atau kerupuk lain buay yang berselera dan terkadang ditaburi bawang goreng.  Penyajiannya yang panas, cocok sebagai makanan pembuka hari, sarapan. 
Di Kota Solo dan sekitarnya banyak nama soto yang terkenal, ada Soto Gading, Soto Triwindu, Soto Seger, Soto Ledokan, Soto Ndelik, Soto Gobyos, Soto Sawah, Soto Rempah, Soto Sor Ringin, Soto Grabah, Soto Gebrak, Soto Mbok Marni, Soto Pak Soleh, dan berbagai nama warung soto yang dinamakan dengan berbagai latar belakang.  Misalnya Soto Gading, karena lokasinya di daerah Gading. Soto Ledokan, karena lokasinya ada di bagian bawah jalan. 
Soto ini biasanya ditemani oleh berbagai panganan, misalnya tempe goreng, paru goreng, sate telur puyuh, bakwan, dan snack lain penggugah selera.  

Ada lagi Soto Madura, yang dari namanya jelas berasal dari pulau garam, Madura. Soto dengan telur rebus, kentang goreng, kecambah, dan berbagai rempah ini diracik dengan khas sehingga membuat lidah berdansa. Varian Soto Madura ini banyak, ada Soto Bangkalan yang menggunakan soun, tauge, dan daging sapi atau ayam atau jerohan. Soto Sumenep dengan singkong, tauge goreng, bihun dan berbagai bumbu masak. Atau Soto Pamengkasan dengan kentang rebus, perkedel, lontong, dan tentunya berbagai bumbu masak yang menjadi racikan kuahnya. 

Soto Kediri dari Jawa Timur sekilas sama dengan soto ayam biasa, tetapi berkuah santan, sehingga terasa gurih. Juga ada Soto Lamongan yang kuahnya ditambahkan koya sehingga menambah gurih citarasanya. 

Ada yang sama dengan Soto Kediri, yaitu Soto Betawi yang berkuah santan dan ditambahkan emping serta berbagai jerohan dan organ tubuh ternak lain, misalnya mata, hati, babat, dan iso babat. 

Ada juga Soto Padang yang merupakan soto dengan ingredient daging sapi goreng kering, bihun, perkedel kentang, dan direndam di kaldu sapi nan kental

Soto Sokaraja dari wilayah Banyumas juga unik. Isinya ketupat, ditambahkan daun bawang, kerupuk warna warni, daging ayam atau sapi, kuah kental, bumbu kacang dan kecap. 

Aoto Bangkong dari Semarang juga menambah khazanah persotoan tanah air. Ada juga Soto Pekalongan yang menggunakan tauco.

Coto Makassar juga khas lho gaes, tahu khan bedanya soto dengan coto?  
Benar...  
Yang beda dagingnya, kalau soto dengan daging sapi, kalau coto dengan daging capi he he he 

Juga ada soto yang memanipulasi gambar, namanya SotoShop he he he


Oke gaes, sampai ketemu di resensi kuliner lainnya.

Referensi : wikipedia 


Jumat, 13 Maret 2020

Etika Batuk

Hallo gaes, semoga semua sehat dan bugarnya.  
Pernah batuk gaes?  
Pastilah ya, kita setiap tahun biasanya akan kena  batuk 1-2 kali dan itu normal koq. 

Batuk sebagai reaksi alami karena adanya benda asing yang tidak biasa disaluran pernapasan dan dikeluarkan dengan cara batuk.

Tapi, baruk ada etikanya lho, karena benda asing yang dikeluarkan bisa jadi akan menular pada orang lain yang sehat disekeliling kita.  

Kalau batuk, tutuplah dengan bagian siku tangan dan bergeserlah ke tempat yang sepi.  

Semoga kita selalu sehat ya gaes.  

Kamis, 12 Maret 2020

LEISA #SeriPertanianTerpadu

Hallo gaes, ketemu lagi ...
Maaf ya kalau harus berganti blog, karena blog yang lalu tidak dapat lagi diakses, semoga ini akan membuat kita semakin manstaf berkomunikasi.
Pertanian Terpadu mengkedepankan kemandirian, dimana suatu aktivitas di bidang pertanian diharapkan dapat berjalan dengan menggunakan potensi yang ada di sekitarnya.  
Konsep LEISA (Low Eksternal Input Sustainable Agriculture) merupakan penyangga dalam pelaksaan Pertanian Terpadu.  LEISA mengajak para pelaku Pertanian Terpadu untuk berfikir taktis, berstrategis, dan bertindak efektif dalam menjalankan kegiatan di bidang pertanian. LEISA mengajarkan cara untuk memaksimalkan semua potensi yang ada disekitar dan memadupadankan menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat. 
Misalnya di sebuah kawasan pertanian, maka ada hasil samping pertanian dan perkebunan (seperti : jerami, daun kacang tanah, daun kedelai, kulit kacang tanah, tongkol jagung, klobot jagung, batang dan daun jagung, daun tebu) sebagai pakan ternak. Kotoran ternak yang didekomposisi menjadi kompos dan urine ternak yang difermentasi menjadi pupuk organik cair. 
Melalui sinergitas tersebut, maka lahan tidak akan kekurangan unsur hara untuk pertumbuhan dan produkvitasnya sehingga pertumbuhan tetap terjaga baik dan produksi terus meningkat, disamping kondisi lahan tetap tejaga kualitas fisik, kimia, dan biologinya.  Ternak juga tidak akan kekurangan pakan karena tersedia disekitar dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang baik, meski ada hasil samping pertanian atau perkebunan yang perlu diberi perlakuan fermentasi. 
Konsep LEISA ini pada akhirnya akan memberikan keuntungan:
  • Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Daya Lokal, potensi wilayah dapat diupayakan menjadi sumber daya bagi pengembangan kegiatan di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan atau perikanan.
  • Maksimalisasi Daur Ulang (Zero Waste), tidak ada lagi jerami dibakar, atau kotoran ternak ditumpuk tanpa guna. Semua dapat diberdayakan dan didayagunakan
  • Minimalisasi Kerusakan Lingkungan (Ramah Lingkungan), mesra alam karena lahan akan semakin produktif dengan meminimalisir penggunaan pupuk sintetis dan penjagaan kualitas lahan karena menggunakan pestisida nabati
  • Diversifikasi Usaha, tidak hanya hasil utama satu bidang saja, tetapi seorang petani akan dapat menjadi peternak, petambak, pekebun, pengusaha karena semua aktivitasnya memberikan sinergi satu sama lain
  • Pencapaian Tingkat Produksi Yang Stabil Dan Me
    madai Dalam Jangka Panjang
    , seorang petani akan menghasilkan beras, tetapi juga hasil ternak, kompos, ikan, pestisida nabati, pakan ternak, media tanam dan komoditas lain yang akan menjadi pendapatan harian, mingguan,bulanan, semester, atau tahunan
  • Menciptakan Kemandirian, kondisi di atas akan menjadikan seorang petani memiliki sumber kekuatan yang stabil dan saling memperkuat sisi ekonomi, sosial, kemanusiaan, dan juga nilai keimanan. Konsepini tentunya bila dikembangkan dalam skala luas (kelompok) akan memberikan efek bola salju yang semakin membesar 


#PertanianTerpadu 
#JanganLupaBerdoa
#TetaplahBahagia





ARANG SEKAM #SeriPertanianTerpadu

Hallo gaes, tahu khan sekam padi?
Gabah yang saat diproses penggilingan padi, lalu dilepaskan dari kulitnya.
Kulit gabah itulah sekam padi
sebagai tambahan informasi berikut tentang arang sekam padi yang memiliki manfaat besar, tetapi proses pengerjaannya juga tidak sesederhana yang kita bayangkan
Membuat alat pembakaran
  1. Cari tong silinder atau drum yang terbuat dari besi, seng, alumunium atau logam yang tahan api lainnya. Sebaiknya berukuran kurang lebih 20 liter. Kemudian buang salah satu dari alas atau atap silinder tersebut.
  2. Pada bagian alas atau atap silinder yang tidak dibuang, buat lubang berbentuk lingkaran dengan diameter 10 cm. Usahakan lubang terdapat tepat ditengah-tengah lingkaran atau berada di titik pusat diameter silinder.
  3. Kemudian buat lubang-lubang dengan paku atau pahat pada dinding silinder (diamater kurang lebih 0,5 cm) dengan jarak antar lubang sekitar 2-3 cm. Lubang ini berfungsi untuk membuang panas dari bahan bakar ke tumpukan sekam padi, tanpa harus membakar sekam secara langsung.
  4. Cari atau buat pipa seng sepanjang 1 cm dengan diamater 10 cm. Masukkan pipa seng tersebut kedalam lubang yang telah dibuat pada alas atau atap silinder, sehingga berfungsi sebagai cerobong asap bagi kamar pembakaran yang ada di silinder utama.
  5. Rekatkan pipa dengan cara dilas sehingga pipa berdiri tegak lurus di atas silinder. Atau letakkan pipa cerobong pada lubang yang ada di silinder, ganjal dengan paku dan ikat dengan kawat besi agar pipa cerobong bisa berdiri tegak dan tidak melesak ke dasar silinder.
Proses pembakaran arang sekam
  1. Pilih lokasi pembakaran yang jauh dari perumahan atau jalan, karena proses pembakaran sekam padi akan menimbulkan asap yang tebal. Sebaiknya alas tempat pembakaran terbuat dari lantai keras yang tahan panas, atau alasi bagian bawah dengan plat seng sebelum melakukan pembakaran. Hal ini untuk memudahkan pengambilan arang sekam.
  2. Buat api unggun seukuran silinder yang telah kita buat sebelumnya. Bahan bakarnya bisa menggunakan kertas koran, kayu bakar atau daun-daun kering. Kemudian nyalakan api, lalu tutup api tersebut dengan silinder yang telah diberi cerobong asap tadi.
  3. Timbun ruang pembakaran silinder yang didalamnya sudah ada nyala api dengan beberapa karung sekam padi. Penimbunan dilakukan menggunung ke atas setinggi kurang lebih 1 meter dengan puncak timbunan cerobong asap yang menyembul keluar.
  4. Setelah 20-30 menit atau saat puncak timbunan sekam padi terlihat menghitam, naikkan sekam yang masih berwarna coklat di bawah ke arah puncak. Lakukan terus sampai semua sekam padi menghitam sempurna.
  5. Setelah semua sekam berubah menjadi hitam, siram dengan air hingga merata. Penyiraman dilakukan untuk menghentikan proses pembakaran. Apabila proses pembakaran tidak dihentikan maka arang sekam akan berubah menjadi abu.
  6. Setelah disiram dan suhunya menurun, bongkar gunungan arang sekam dan keringkan. Kemudian masukkan ke dalam karung dan simpan di tempat kering.
Manfaat Arang Sekam :
  • Arang sekam bermanfaat untuk memperbaiki struktur fisik, kimia, dan biologi tanah.
  • Selain itu, bahannya bisa meningkatkan porositas tanah sehingga menjadi gembur dan mampu menyerap air.
  • Arang sekam kaya akan kandungan karbon yang sangat dibutuhkan dalam proses pembuatan kompos.
  • Dari beberapa penelitian diketahui juga kemampuan arang sekam sebagai absorban yang bisa menekan jumlah mikroba patogen dan logam berbahaya dalam pembuatan kompos.
  • Sehingga kompos yang dihasilkan bebas dari penyakit dan zat kimia berbahaya.
  • Diperkotaan, arang sekam banyak dibutuhkan untuk media tanam tanaman hias.
  • Sangat disukai banyak orang karena bobotnya ringan dan mudah dibersihkan dari akar tanaman.
  • Secara biologis, tanah yang gembur merupakan media yang baik bagi tumbuh dan berkembangnya organisme hidup.
  • Sedangkan secara kimia, memiliki kandungan unsur hara penting seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg).
  • Keasamannya netral sampai alkalis dengan kisaran pH 6,5 sampai 7.
  • Arang dari sekam padi tidak mengandung garam-garam yang merugikan tanaman dan tidak membawa mikroorganisme patogen.
demikian gaes, selingan tentang arang sekam.
have a best day

PRINSIP PERTANIAN TERPADU #SeriPertanianTerpadu

Hallo gaes, salam Pertanian Terpadu
Kegiatan pertanian kita, entah itu aktifitas bertani, beternak, berkebun, atau berbudidaya ikan darat selalu menghasilkan hasil samping.
Kalau kita bertani sawah, maka hasil sampingnya adalah jerami dan sekam padi dengan hasil utama adalah beras.
Kalau kita beternak, maka hasil sampingnya adalah kotoran ternak, urine, dan sisa pakan dengan hasil utama adalah ternak daging, telur, dan air susu
Kalau kita berkebun, maka hasil sampingnya adalah gulma dan sisa tanaman setelah hasil utama berupa buah dan bunga diambil.
Nha, karena kita terlalu fokus pada hasil utama yang menurut kita sudah memberikan hasil yang banyak, maka kita kadang melupakan hasil samping. ditumpuk saja disekitar lahan atau kandang atau kebun. padahal kalau kita biarkan ada efek negatifnya lho, yaitu : mikroorganisme yang akan menyebabkan berdatangannya hama dan penyakit.
Kalau kita menjalankan konsep Pertanian Terpadu, maka semua akan menjadi hasil utama.
Jerami akan dapat difermentasi menjadi pakan ternak ruminansia
sekam padi dapat dibuat arang sekam untuk dijadikan bahan kompos atau media tanam sumber unsur Kalium
Kotoran ternak dapat dijadikan biogas dan slurrynya (lumpurnya) dapat diubah menjadi kompos / pupuk organik
Kotoran ternaknya dapat langsung didekomposisi menjadi kompos / pupuk organik
Urine / air seni ternak dapat difermentasi menjadi pupuk organik cair
gulma dan sisa tanaman di kebun dapat menjadi pakan ternak atau kompos
Jadi Prinsip Pertanian Terpadu adalah :
  1. Merubah hasil samping usaha pertanian menjadi pakan ternak
  2. Merubah hasil samping peternakan menjadi kompos
#SeriPertanianTerpadu
#JanganLupaBerdoa
#TetaplahBahagia


PERTANIAN TERPADU

Hallo gaes, saat kita ada di meja makan tentunya kita akan menikmati hidangan yang lezat dan mengenyangkan. 

Pastinya ada sumber karbo, seperti nasi, tepung, dan umbi, kemudian ada sumber serat, seperti sayuran dan buah, lalu sumber protein asal hewan seperti daging sapi, daging kambing, daging ayam, daging ikan, susu, dan telur. 

Kesemua bahan makanan itu dihasilkan oleh dunia pertanian, dimana ada proses budidaya, perawatan, reproduksi, penjagaan terhadap penyakit, panen, dan pengolahan paska panen. Kegiatannya bermacam-macam, ada yang bercocok tanam pagi, menakuk sagu, memanen jagung, bertanam sayuran, memelihara ternak, menjala ikan, memerah susu, sampai mengutip di hutan. Awalnya dulu, kegiatan itu dilakukan dengan cara berburu atau mengambil di hutan, kemudian manusia berkembang dan mulai melakukan proses domestikasi / pemeliharaan, ditambah dengan perkembangan teknologi yang semakin luas dan semakin maju, maka proses budidaya yang berkombinasi dengan teknologi menghasilkan banyak keluaran yang merubah pola pencarian dan juga pola kosumsi manusia. 

Petani, nelayan, pekebun, peternak, tengkulak, pedagang, chef, retailer, dan sales menjadi pelaku kegiatan sehingga semuanya ada di meja makan kita dan mereka kebanyakan berada di pedesaan atau jauh dari perkotaan. Tetapi ada yang unik nih gaes, ternyata penduduk perkotaan saat ini lebih tinggi dari penduduk desa, artinya sudah dari separo jumlah pendusuk Indonesia tinggal diperkotaan. darikatadata,com yang melansir sebuah data dari Worldometers yang mencatat bahwa pada 2019 jumlah penduduk perkotaan di Indonesia sebanyak 150,9 juta jiwa atau 55,8% dari total penduduk Indonesia yang sebesar 270,6 juta jiwa. Dominasi tersebut meningkat 0,7% dari tahun sebelumnya yang sebesar 147,6 juta jiwa atau 55,1% dari total penduduk Indonesia yang sebesar 267,7 juta jiwa. Worldometers juga memproyeksikan, selama lima tahun mendatang jumlah penduduk perkotaan di Indonesia semakin meningkat. Pada 2020, penduduk perkotaan diproyeksikan sebanyak 154,2 juta jiwa atau 56,4% dari total penduduk Indonesia yang sebesar 273,5 juta jiwa. Angka tersebut meningkat pada 2025 hingga mencapai 170,4 juta jiwa atau 59,3% dari total penduduk Indonesia yang sebesar 287 juta jiwa. Ada apa di kota sehingga mereka begitu senangnya dengan kehidupan kota? bisa jadi karena jumlah uang yang berputar di kota lebih banyak, bisa juga karena lapangan pekerjaan di kota lebih menjanjikan untuk menghasilkan dan pastinya lebih bergengsi. 

Lalu, profesi petani, peternak, nelayan dan yang menjadi penjuang pangan itu siapa yang akan menggantikan kalau semuanya di kota? padahal menjadi petani, nelayan, peternak hasilnya juga tidak kalah menarik lho, apalagi mereka tinggal di desa yang notabene beban hidupnya lebih murah. mungkin karena persepsi tentang aktifitas sebagai petani, nelayan, dan pekebun yang kurang bergengsi dan hasilnya masih kecil (berkaca dari usaha rakyat), bisa juga sih. Padahal kalau mau digali lebih jauh, aktifitas itu semua menyenangkan dan memberikan nilai yang besar bagi kehidupan. Emang sih, kalau hanya mengusahakan satu jenis kegiatan saja, pasti tidak akan memberi hasil maksimal, misalnya hanya menjadi petani dengan mengusahakan budidaya pertanian dari benih padi menjadi beras. Tetapi kalau dapat memadukan berbagai kegiatan dengan berlandaskan pada prinsip dasar usaha di bidang pertanian, dengan mengkedepankan hubungan positif dengan lingkungan, dikelola dengan profesional, hasilnya akan sangat fantastis. 

Pola ini dinamakan Pertanian Terpadu Pola pertanian terpadu sendiri merupakan suatu pola yang mengintegrasikan beberapa unit usaha dibidang pertanian yang dikelola secara terpadu, berorientasi ekologis sehingga diperoleh peningkatan nilai ekonomi, tingkat efisiensi dan produktifitas yang tinggi. Ini pancingan untuk diskusi lebih lanjut.

Tenang gaes, ini masih yang pertama oke, kita ketemu lagi di #SeriPertanianTerpadu berikutnya see you gaes 

#IntegratedFarmingSystem 
#JanganLupaBerdoa 
#TetaplahBahagia