Kokok ayam jantan baru saja usai,
berganti dengan semburat cahaya matahari bulan April yang mulai menghangatkan
bumi Desa Sukamaju serta kicauan burung menyambut pagi. Sementara disebuah pekarangan yang asri
berjongkok seorang yang mengenakan kaos putih bercelana komprang hitam lengkap
dengan sepatu boot hijau tampak sedang mengais bedeng memindahkan benih cabai
merah dari bak persemaian. Selepas subuh
tadi, Arman langsung bergegas menuju kelokasi persemaian yang merupakan sebuah
bangunan tertutup paranet dan beratap plastik, berada tidak jauh dari rumahnya. didalam bangunan berukuan 6x5 meter itu
terdapat tiga deret rak persemaian dengan ukuran 1x1 meter sebanyak 2 buah dan
2x1 meter sebanyak 1 buah dengan bersusun dua.
Masing-masing susunan terdiri atas kotak-kotak yang diberi alas kawat
ukuran 1x1cm dengan ketebalan pinggir kotak setebal 5cm, ukuran kotak itu
sendiri 100x30cm. Masing-masing kotak
berisikan sekitar 750buah benih sehingga total rumah persemaian itu mampu
menampung 45.000 buah benih.
Persemaian yang dilakukan Arman
tidak dilakukan serentak, ia melakukan pengaturan pembenihan sehingga rotasi
penanaman pada bedeng pertanaman akan lebih teratur dan terencana, juga dapat
memutus siklus hama dan penyakit tanaman.
Saat ini ia baru saja menanam benih kedua ribu
enamratus sembilan puluh dengan jarak penanaman 60x60cm, sebuah
suara menghentikan kegiatannya. “Ayah”, sebuah
panggilan hormat menembus gendang telinga Arman dan itu cukup membuatnya menghentikan
aktifitas dan berdiri memandang sumber suara sambil menjawab, “Assalamu
‘alaikum anakku”. “Wa’alaikum salam,
Ayah. Bimo pamit sekolah dulu ayah”,
sambil mendekat, Bimo meraih tangan ayahnya dan mencium punggung tangan memohon
restu agar dia dapat menunaikan tugas sebagai pelajar dengan baik dan kelak
menjadi anak yang mampu menjadi kebanggaan keluarga. “Hati-hati dijalan Bimo, selamat
belajar. Sudahkah kau sarapan?”, balas
sang ayah bijak. “Sudah ayah, Bimo juga
sudah pamit Ibu, beliau sedang memandikan adik”. “Baik anakku, salam ayah untuk Pak Harun”,
antar sang ayah kepada anaknya. Pak Harun adalah
kepala sekolah di tempat Bimo belajar dan kebetulan adalah teman sekolah Arman
di Institut Keguruan Negeri. “Baik ayah,
nanti Bimo sampaikan, Assalamu ‘alaikum”.
“Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh”, diiringi senyum dan sinar
mata kebanggaan seorang ayah pada anaknya.
Begitulah keseharian Bimo sang putra tertua Amran berpamitan kepada
ayahnya.
Sosok Bimo telah hilang dari
pandangan, kembali Amran menyebar pandangan pada 10 bedeng berukuran
masing-masing 1,2x10meter yang terbentang dan sudah sembilan bedeng selesai
ditanam. Kuncup-kuncup tanaman cabai
merah itu berayun-ayun mendongakkan daun menyongsong sinar matahari pagi yang
memandikan mereka untuk memasak makanan melalui stomata dengan hijau daun
(klorofil) yang bahan bakunya berasal dari serapan akar untuk disebarkan
menjadi bunga dan buah. Kembali Arman
berjongkok dan meneruskan penanaman sisa benih yang ada sehingga genap sepuluh
bedeng tertanami.
Bertanam Cabai Merah
Jarak tanam : 50-60
x 50-60 cm, model tumpang sari dan menghidari serangan penyakit tanaman dapat
dilakukan dengan jarak 100x100 cm
Jarak barisan/bedeng : 60-70cm
Sistem Pertanaman :
- Monokultur, satu
jenis tanaman dengan jumlah dua larikan dalam satu bedeng
- Tumpang Sari, terbagi atas beberapa model : (1) Larikan model domino setengah bedeng, ditengah-tengah tanaman cabai diberi tanaman lain dengan model berseling dengan tanaman utama, misalnya bawang merah, sawi, pakcoy green, bayam; (2) Larikan model domino, ditengah-tengah tanaman cabai diberi tanaman lain dengan model sejajar dengan tanaman utama, misalnya bawang merah, sawi, pakcoy green, bayam, dan (3) Larikan model renggang, seperti model monokultur dimana cabai ditanam pada dua larikan dan setelah beberapa baris diselingi dengan tanaman lain, misalnya bawang merah, sawi, pakcoy green, bayam
Bibit yang ditanam adalah bibit
yang telah disemai dengan umur persemaian antara 30 – 45 hari. Bibit ditanam pada bedeng yang telah diberi
cendawan enthomopathogen, seperti Trichoderma
spp. atau Gliocadium spp. untuk
menghindari serangan fusarium dan phytopthora.
Pada masing-masing lubang tanam diberi tambahan 250 gram pupuk organik
padat.
Jarak Tanam
|
Jumlah Tanaman
|
Keterangan
|
50-60
x 60-70 cm
|
25.000
- 30.000 buah
|
Monokultur
|
50-60
x 60-70 cm
|
25.000
- 30.000 buah
|
Tumpang
sari modeldomino, domino setengah bedeng
|
50-60
x 60-70 cm
|
20.000
buah
|
Tumpang
sari model renggang
|
100
x 100 cm
|
8.000
– 10.000 buah
|
|
70
x 100 cm
|
12.000
buah
|
Penanaman
sebaiknya dilaksanakan sore hari.
Tanaman sebaiknya diberi pelindung untuk menahan tanaman dari guyuran
air hujan, sengatan sinar matahari langsung dan terpaan angin. Penyiraman tanaman mutlak dilakukan untuk
menjaga kelembaban lahan.
Tanpa terasa pukul 07.30 WIB
tertera pada jam digital yang disimpan dalam saku celana komprang Amran,
menandai tertanamnya benih cabai ketigaribu.
Dipanggilnya Abdul, salah satu pekerja kebun yang saat itu sedang
mempersiapkan benih caisim dan bayam.
“Abdul, tolong kamu teruskan menanam tumpang sari disela-sela cabai
kemudian disiram dengan pupuk cair yang sudah saya buat di rumah persemaian. Saya kembali kerumah. Nanti kamu ingatkan Tono untuk memasang
perangkap lalat buah pada tanaman tomat kita di blok C-12, jangan sampai kena
serangan. Saya kemarin sore sudah
semprot dengan Beauverria bassiana,
tolong biar diperiksa juga, saya sudah memberikan catatan pada buku
harian. Tetapi ada baiknya kamu
ingatkan”, terang Arman kepada Abdul.
“Baik Pak, akan saya sampaikan dan setelah dikerjakan, saya akan
ingatkan Tono untuk menuliskan laporan pada buku harian, Pak”, jawab
Abdul. “Terimakasih, Abdul”, pamit
Arman. Dibawanya bak persemaian,
cangkul kecil dan sebotol air menuju ke belakang
rumah. Jarak lokasi penanaman yang
sekitar 300 meter tidak memerlukan waktu lama bagi Arman untuk mencapai pintu
belakang rumahnya yang disekitarnya berpagar bunga matahari yang mulai
bermekaran. Sebelum memasuki rumah, ia
menuju ke rumah persemaian dan mencuci seluruh peralatan dan ditiriskan pada
sebuah rak memanjang disisi luar bangunan persemaian. Setelah mencuci sepatu boot, meniriskannya,
berganti sandal jepit lalu mencuci kaki, perlahan handel pintu dibuka
mengiringi salam menyejukkan, “Assalamu ‘alaikum”. “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”,
sebuah jawaban yang luar biasa mengisi relung pendengaran seisi rumah,
menandakan kegembiraan atas rahmat Yang Maha Kuasa. “Ayah”, sebuah pekik kecil anak umur 1,5
tahun menyambut kehadiran ayahnya dirumah. ”Wah, anak ayah sudah cantik”,
sambut Arman menggandeng tangan anaknya seusai punggung tangannya menerima
kecup hormat dari sang putri keduanya itu.
“Sudah pulang Yah?”, sambut merdu seorang istri pada suaminya. “Alhamdulillah, Bu. Penanaman cabai sudah selesai, ayah mau mandi
dulu”. “Baik Yah, Ibu siapkan sarapan
dulu”, jawab sang istri sambil memberi senyum hangat. Usai mandi dan melaksanakan shalat Dhuha,
Amran menuju meja makan dan telah terhidang nasi goreng ikan teri dan lauk
tempe goreng yang dibalur tepung dan tampak baru saja selesai dimasak serta
setoples kerupuk udang. “Ayo bu,
sekalian kita sarapan. Irma sudah tidur
ya?”, ajak Amran. “Mari yah. Irma baru saja tidur selepas minum susu
tadi”, sambut Rina dan tangannya mengambil piring kosong dan mengisinya dengan
nasi goreng ikan teri dan menyorongkannya kepada Arman dengan
lembut. “terima kasih, Bu”, sambut Arman
menghargai bakti istrinya dan menambah piring dengan dua potong tempe dan satu
kerupuk udang. “Bismillah”, desau do’a
terucap mengiringi sarapan keluarga pagi itu.
Usai sarapan, Amran masuk kembali
kekamar dan mengganti kemeja batik dan sarung dengan kaos putih dan celana
hitam komprang kembali, rupanya ia ingin kembali keladang. Amran menuju meja makan dan meneguk segelas
susu kedelai. Susu kedelai itu adalah
buatan Rina.
------- bersambung LAKONKU ADALAH PETANI #2








