Senin, 30 Maret 2020

LAKONKU ADALAH PETANI #1


Kokok ayam jantan baru saja usai, berganti dengan semburat cahaya matahari bulan April yang mulai menghangatkan bumi Desa Sukamaju serta kicauan burung menyambut pagi.  Sementara disebuah pekarangan yang asri berjongkok seorang yang mengenakan kaos putih bercelana komprang hitam lengkap dengan sepatu boot hijau tampak sedang mengais bedeng memindahkan benih cabai merah dari bak persemaian.  Selepas subuh tadi, Arman langsung bergegas menuju kelokasi persemaian yang merupakan sebuah bangunan tertutup paranet dan beratap plastik, berada tidak jauh dari rumahnya.  didalam bangunan berukuan 6x5 meter itu terdapat tiga deret rak persemaian dengan ukuran 1x1 meter sebanyak 2 buah dan 2x1 meter sebanyak 1 buah dengan bersusun dua.  Masing-masing susunan terdiri atas kotak-kotak yang diberi alas kawat ukuran 1x1cm dengan ketebalan pinggir kotak setebal 5cm, ukuran kotak itu sendiri 100x30cm.  Masing-masing kotak berisikan sekitar 750buah benih sehingga total rumah persemaian itu mampu menampung 45.000 buah benih.


Persemaian yang dilakukan Arman tidak dilakukan serentak, ia melakukan pengaturan pembenihan sehingga rotasi penanaman pada bedeng pertanaman akan lebih teratur dan terencana, juga dapat memutus siklus hama dan penyakit tanaman.  Saat ini ia baru saja menanam benih kedua ribu enamratus sembilan puluh dengan jarak penanaman 60x60cm, sebuah suara menghentikan kegiatannya. “Ayah”, sebuah panggilan hormat menembus gendang telinga Arman dan itu cukup membuatnya menghentikan aktifitas dan berdiri memandang sumber suara sambil menjawab, “Assalamu ‘alaikum anakku”.  “Wa’alaikum salam, Ayah.  Bimo pamit sekolah dulu ayah”, sambil mendekat, Bimo meraih tangan ayahnya dan mencium punggung tangan memohon restu agar dia dapat menunaikan tugas sebagai pelajar dengan baik dan kelak menjadi anak yang mampu menjadi kebanggaan keluarga.  “Hati-hati dijalan Bimo, selamat belajar.  Sudahkah kau sarapan?”, balas sang ayah bijak.  “Sudah ayah, Bimo juga sudah pamit Ibu, beliau sedang memandikan adik”.  “Baik anakku, salam ayah untuk Pak Harun”, antar sang ayah kepada anaknya.  Pak Harun adalah kepala sekolah di tempat Bimo belajar dan kebetulan adalah teman sekolah Arman di Institut Keguruan Negeri.  “Baik ayah, nanti Bimo sampaikan, Assalamu ‘alaikum”.  “Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh”, diiringi senyum dan sinar mata kebanggaan seorang ayah pada anaknya.  Begitulah keseharian Bimo sang putra tertua Amran berpamitan kepada ayahnya. 
Sosok Bimo telah hilang dari pandangan, kembali Amran menyebar pandangan pada 10 bedeng berukuran masing-masing 1,2x10meter yang terbentang dan sudah sembilan bedeng selesai ditanam.  Kuncup-kuncup tanaman cabai merah itu berayun-ayun mendongakkan daun menyongsong sinar matahari pagi yang memandikan mereka untuk memasak makanan melalui stomata dengan hijau daun (klorofil) yang bahan bakunya berasal dari serapan akar untuk disebarkan menjadi bunga dan buah.  Kembali Arman berjongkok dan meneruskan penanaman sisa benih yang ada sehingga genap sepuluh bedeng tertanami.

Bertanam Cabai Merah

Jarak tanam : 50-60 x 50-60 cm, model tumpang sari dan menghidari serangan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan jarak 100x100 cm
Jarak barisan/bedeng : 60-70cm
Sistem Pertanaman  : 

  1. Monokultur, satu jenis tanaman dengan jumlah dua larikan dalam satu bedeng
  2. Tumpang Sari, terbagi atas beberapa model : (1)      Larikan model domino setengah bedeng, ditengah-tengah tanaman cabai diberi tanaman lain dengan model berseling dengan tanaman utama, misalnya bawang merah, sawi, pakcoy green, bayam; (2) Larikan model domino, ditengah-tengah tanaman cabai diberi tanaman lain dengan model sejajar dengan tanaman utama, misalnya bawang merah, sawi, pakcoy green, bayam, dan (3) Larikan model renggang, seperti model monokultur dimana cabai ditanam pada dua larikan dan setelah beberapa baris diselingi dengan tanaman lain, misalnya bawang merah, sawi, pakcoy green, bayam

Bibit yang ditanam adalah bibit yang telah disemai dengan umur persemaian antara 30 – 45 hari.  Bibit ditanam pada bedeng yang telah diberi cendawan enthomopathogen, seperti Trichoderma spp. atau Gliocadium spp. untuk menghindari serangan fusarium dan phytopthora.  Pada masing-masing lubang tanam diberi tambahan 250 gram pupuk organik padat.
 Jumlah bibit tanaman dalam satu hektar luasan lahan tergantung pada jarak tanam
Jarak Tanam
Jumlah Tanaman
Keterangan
50-60 x 60-70 cm
25.000 - 30.000 buah
Monokultur
50-60 x 60-70 cm
25.000 - 30.000 buah
Tumpang sari modeldomino, domino setengah bedeng
50-60 x 60-70 cm
20.000 buah
Tumpang sari model renggang
100 x 100 cm
8.000 – 10.000 buah

70 x 100 cm
12.000 buah


        Penanaman sebaiknya dilaksanakan sore hari.  Tanaman sebaiknya diberi pelindung untuk menahan tanaman dari guyuran air hujan, sengatan sinar matahari langsung dan terpaan angin.  Penyiraman tanaman mutlak dilakukan untuk menjaga kelembaban lahan. 

Tanpa terasa pukul 07.30 WIB tertera pada jam digital yang disimpan dalam saku celana komprang Amran, menandai tertanamnya benih cabai ketigaribu.  Dipanggilnya Abdul, salah satu pekerja kebun yang saat itu sedang mempersiapkan benih caisim dan bayam.  “Abdul, tolong kamu teruskan menanam tumpang sari disela-sela cabai kemudian disiram dengan pupuk cair yang sudah saya buat di rumah persemaian.  Saya kembali kerumah.  Nanti kamu ingatkan Tono untuk memasang perangkap lalat buah pada tanaman tomat kita di blok C-12, jangan sampai kena serangan.  Saya kemarin sore sudah semprot dengan Beauverria bassiana, tolong biar diperiksa juga, saya sudah memberikan catatan pada buku harian.  Tetapi ada baiknya kamu ingatkan”, terang Arman kepada Abdul.  “Baik Pak, akan saya sampaikan dan setelah dikerjakan, saya akan ingatkan Tono untuk menuliskan laporan pada buku harian, Pak”, jawab Abdul.  “Terimakasih, Abdul”, pamit Arman.  Dibawanya bak persemaian, cangkul kecil dan sebotol air menuju ke belakang rumah.  Jarak lokasi penanaman yang sekitar 300 meter tidak memerlukan waktu lama bagi Arman untuk mencapai pintu belakang rumahnya yang disekitarnya berpagar bunga matahari yang mulai bermekaran.  Sebelum memasuki rumah, ia menuju ke rumah persemaian dan mencuci seluruh peralatan dan ditiriskan pada sebuah rak memanjang disisi luar bangunan persemaian.  Setelah mencuci sepatu boot, meniriskannya, berganti sandal jepit lalu mencuci kaki, perlahan handel pintu dibuka mengiringi salam menyejukkan, “Assalamu ‘alaikum”.  “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”, sebuah jawaban yang luar biasa mengisi relung pendengaran seisi rumah, menandakan kegembiraan atas rahmat Yang Maha Kuasa.  “Ayah”, sebuah pekik kecil anak umur 1,5 tahun menyambut kehadiran ayahnya dirumah. ”Wah, anak ayah sudah cantik”, sambut Arman menggandeng tangan anaknya seusai punggung tangannya menerima kecup hormat dari sang putri keduanya itu.  “Sudah pulang Yah?”, sambut merdu seorang istri pada suaminya.  “Alhamdulillah, Bu.  Penanaman cabai sudah selesai, ayah mau mandi dulu”.  “Baik Yah, Ibu siapkan sarapan dulu”, jawab sang istri sambil memberi senyum hangat.  Usai mandi dan melaksanakan shalat Dhuha, Amran menuju meja makan dan telah terhidang nasi goreng ikan teri dan lauk tempe goreng yang dibalur tepung dan tampak baru saja selesai dimasak serta setoples kerupuk udang.  “Ayo bu, sekalian kita sarapan.  Irma sudah tidur ya?”, ajak Amran.  “Mari yah.  Irma baru saja tidur selepas minum susu tadi”, sambut Rina dan tangannya mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi goreng ikan teri dan menyorongkannya kepada Arman dengan lembut.  “terima kasih, Bu”, sambut Arman menghargai bakti istrinya dan menambah piring dengan dua potong tempe dan satu kerupuk udang.  “Bismillah”, desau do’a terucap mengiringi sarapan keluarga pagi itu.
Usai sarapan, Amran masuk kembali kekamar dan mengganti kemeja batik dan sarung dengan kaos putih dan celana hitam komprang kembali, rupanya ia ingin kembali keladang.  Amran menuju meja makan dan meneguk segelas susu kedelai.  Susu kedelai itu adalah buatan Rina.

------- bersambung LAKONKU ADALAH PETANI #2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar