Kamis, 12 Maret 2020

PERTANIAN TERPADU

Hallo gaes, saat kita ada di meja makan tentunya kita akan menikmati hidangan yang lezat dan mengenyangkan. 

Pastinya ada sumber karbo, seperti nasi, tepung, dan umbi, kemudian ada sumber serat, seperti sayuran dan buah, lalu sumber protein asal hewan seperti daging sapi, daging kambing, daging ayam, daging ikan, susu, dan telur. 

Kesemua bahan makanan itu dihasilkan oleh dunia pertanian, dimana ada proses budidaya, perawatan, reproduksi, penjagaan terhadap penyakit, panen, dan pengolahan paska panen. Kegiatannya bermacam-macam, ada yang bercocok tanam pagi, menakuk sagu, memanen jagung, bertanam sayuran, memelihara ternak, menjala ikan, memerah susu, sampai mengutip di hutan. Awalnya dulu, kegiatan itu dilakukan dengan cara berburu atau mengambil di hutan, kemudian manusia berkembang dan mulai melakukan proses domestikasi / pemeliharaan, ditambah dengan perkembangan teknologi yang semakin luas dan semakin maju, maka proses budidaya yang berkombinasi dengan teknologi menghasilkan banyak keluaran yang merubah pola pencarian dan juga pola kosumsi manusia. 

Petani, nelayan, pekebun, peternak, tengkulak, pedagang, chef, retailer, dan sales menjadi pelaku kegiatan sehingga semuanya ada di meja makan kita dan mereka kebanyakan berada di pedesaan atau jauh dari perkotaan. Tetapi ada yang unik nih gaes, ternyata penduduk perkotaan saat ini lebih tinggi dari penduduk desa, artinya sudah dari separo jumlah pendusuk Indonesia tinggal diperkotaan. darikatadata,com yang melansir sebuah data dari Worldometers yang mencatat bahwa pada 2019 jumlah penduduk perkotaan di Indonesia sebanyak 150,9 juta jiwa atau 55,8% dari total penduduk Indonesia yang sebesar 270,6 juta jiwa. Dominasi tersebut meningkat 0,7% dari tahun sebelumnya yang sebesar 147,6 juta jiwa atau 55,1% dari total penduduk Indonesia yang sebesar 267,7 juta jiwa. Worldometers juga memproyeksikan, selama lima tahun mendatang jumlah penduduk perkotaan di Indonesia semakin meningkat. Pada 2020, penduduk perkotaan diproyeksikan sebanyak 154,2 juta jiwa atau 56,4% dari total penduduk Indonesia yang sebesar 273,5 juta jiwa. Angka tersebut meningkat pada 2025 hingga mencapai 170,4 juta jiwa atau 59,3% dari total penduduk Indonesia yang sebesar 287 juta jiwa. Ada apa di kota sehingga mereka begitu senangnya dengan kehidupan kota? bisa jadi karena jumlah uang yang berputar di kota lebih banyak, bisa juga karena lapangan pekerjaan di kota lebih menjanjikan untuk menghasilkan dan pastinya lebih bergengsi. 

Lalu, profesi petani, peternak, nelayan dan yang menjadi penjuang pangan itu siapa yang akan menggantikan kalau semuanya di kota? padahal menjadi petani, nelayan, peternak hasilnya juga tidak kalah menarik lho, apalagi mereka tinggal di desa yang notabene beban hidupnya lebih murah. mungkin karena persepsi tentang aktifitas sebagai petani, nelayan, dan pekebun yang kurang bergengsi dan hasilnya masih kecil (berkaca dari usaha rakyat), bisa juga sih. Padahal kalau mau digali lebih jauh, aktifitas itu semua menyenangkan dan memberikan nilai yang besar bagi kehidupan. Emang sih, kalau hanya mengusahakan satu jenis kegiatan saja, pasti tidak akan memberi hasil maksimal, misalnya hanya menjadi petani dengan mengusahakan budidaya pertanian dari benih padi menjadi beras. Tetapi kalau dapat memadukan berbagai kegiatan dengan berlandaskan pada prinsip dasar usaha di bidang pertanian, dengan mengkedepankan hubungan positif dengan lingkungan, dikelola dengan profesional, hasilnya akan sangat fantastis. 

Pola ini dinamakan Pertanian Terpadu Pola pertanian terpadu sendiri merupakan suatu pola yang mengintegrasikan beberapa unit usaha dibidang pertanian yang dikelola secara terpadu, berorientasi ekologis sehingga diperoleh peningkatan nilai ekonomi, tingkat efisiensi dan produktifitas yang tinggi. Ini pancingan untuk diskusi lebih lanjut.

Tenang gaes, ini masih yang pertama oke, kita ketemu lagi di #SeriPertanianTerpadu berikutnya see you gaes 

#IntegratedFarmingSystem 
#JanganLupaBerdoa 
#TetaplahBahagia 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar