Jumat, 26 Juni 2020

LAKONKU ADALAH PETANI #15

 

Potensi Bersama, Komunikasi, dan Kerjasama

Diberanda rumah digelar karpet dan warga masyarakat berkumpul melingkar dengan formasi huruf U, terdapat meja kayu kecil pada bagian atas formasi.  Tampak Pak Lurah, Pak Bambang Sungkowo, dan Arman berlatar belakang papan tulis putih menghadap formasi.  Waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB ketika Arman membuka pertemuan malam itu, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh” disusul dengan jawaban seluruh yang hadir, “wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh”.  “Yang terhormat Pak Lurah, Bapak Mawardi Harjosungkono.  Yang saya banggakan, Bapak Ir.  Bambang Sungkowo, MS dari Dinas Peternakan Kabupaten.  Yang saya terhormat pemuka masyarakat dan hadirin sekalian, pertama-tama saya haturkan terimakasih kepada Yang Maka Kuasa atas perkenan-Nya kita dapat berkumpul dikediaman kami dan terimakasih atas kehadiran Bapak-bapak dalam pertemuan ini.  Perlu saya sampaikan, bahwa pertemuan ini terkait dengan usaha pertanian dan peternakan yang saat ini sedang kami lakukan.  Setelah saya bertemu dengan Pak Lurah  saat minta ijin untuk usaha ternak sapi perah dan domba, kemudian saya sampaikan kepada beliau tentang pola yang saya terapkan, beliau menyarankan agar saya mengundang bapak-bapak sekalian berkumpul.  Saya juga mengajak guru saya, Bapak Ir.  Bambang Sungkowo, MS untuk mendampingi dan mengarahkan kita dalam pertemuan ini”, jelas Arman membuka pertemuan.

“Sebagai awal pertemuan, saya akan sampaikan dahulu aktivitas yang kami lakukan disini.  Seperti Bapak-bapak ketahui, saat ini kami sedang mengusahakan sebuah model usaha pertanian padi, sayur-sayuran, buah, dan ternak sapi perah. Kami menerapkan sebuah model yang bernama Pertanian Terpadu, yaitu sebuah pertanian dengan mengkedepankan penggunaan sumber daya lokal yang belum dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai pakan ternak atau pupuk organik.  Saat ini kami sudah mengembangkan pertanian organik dengan sebanyak-banyaknya menggunakan bahan organik sebagai sarana produksi pertanian, seperti pupuk organik atau pestisida / insektisida nabati serta agensia hayati.  kami juga menggunakan hasil samping pertanian / perkebunan sebagai pakan ternak sapi perah”, terang Arman.  “berkenaan dengan hal yang sudah saya sampaikan, saya mohon Pak Lurah dapat memberikan wejangan kepada kami dan mengarahkan pertemuan ini agar kita, warga Desa Sukamaju dapat mengembangkan model pertanian yang ramah lingkungan dan menghasilkan, kepada pak Lurah, kami persilahkan”, lanjut Arman sambil undur diri, Pak Lurah segera bangkit dan berdiri.  Setelah mengucapkan salam, Pak Lurah berkata, “yang terhormat Bapak Ir.  Bambang Sungkowo, MS.  yang terhormat, sahibul bait, Bapak Arman Sumadipraja, yang saya junjung, tokoh masyarakat dan yang saya cintai, bapak-bapak sekalian, warga Desa Sukamaju.  Senang sekali kita dapat bertemu dan berkumpul pada sebuah pertemuan yang mencerahkan ini.  Saya memang meminta Pak Arman untuk mengadakan acara pertemuan ini.  Saya memperhatikan, kegiatan pertanian yang dilakukan Pak Arman sangat menjanjikan sebuah perubahan yang memberi kemajuan lebih baik.  Pola Pertanian Terpadu seperti yang disampaikan Pak Arman dan bapak-bapak sekalian lihat adalah sebuah bentuk usaha pertanian tanpa limbah yang sangat menjanjikan dan memberi nilai positif bagi kehidupan kita”, Pak Lurah tampak semangat.  Beliau lalu melanjutkan,”saya ingin tahu, diantara Bapak-bapak sekalian yang bertanam padi?”.  Hampir 50% hadirin mengacungkan tangan mereka keatas.  “Baik, terimakasih.  Berarti yang lainnya bertanam palawija dan sayuran, tho?”, tegas Pak Lurah.  “Betul Pak”, jawab sebagian besar hadirin mengamini pendapat Pak Lurah.  “Baiklah bapak-bapak, saya menerima penjelasan yang sangat baik dari Pak Arman tentang pemanfaatan hasil samping pertanian dan perkebunan yang saat ini kita kelola menjadi pakan ternak dan proses dekomposisi hasil samping ternak – hasil samping pertenian/perkebunan yang tidak dapat menjadi pakan untuk diubah menjadi pupuk organik.  Seperti kita ketahui, Warung Organik Pak Tikno adalah sebuah bukti penghargaan kita pada diri sendiri.  Kalau kita melewati warung Pak Tikno, kita lihat barisan kendaraan dari luar kota yang datang kesana dan Pak Tikno hanya buka sebentar, dalam tempo tiga jam saja hidangan yang disajikan Pak Tikno sudah habis.  Setelah saya ketahui, ternyata Pak Arman adalah salah satu pemasok sayuran organik ke Pak Tikno, hidangan yang disajikan cepat habis karena pasokan sayuran terbatas.  Pak Tikno sempat berbicara juga dengan kami, untuk bekerjasama dalam pemasaran produk organik, karena putra beliau di kota juga membuka sebuah restoran yang memasarkan produk organik.  Melihat potensi itu, bapak-bapak alangkah berbahagianya kita.  Kita sudah memiliki Pak Arman yang telah mengaplikasikan pertanian organik, kita memiliki Pak Tikno dengan potensi pemasaran yang luar biasa.  Kita juga memiliki Pak Bambang dengan staf beliau yang siap membantu kita dalam pengembangan pertanian dan peternakan.  Pada pertemuan yang baik ini, saya mengajak bapak-bapak sekalian untuk berdiskusi, merapatkan barisan dalam memajukan pertanian Desa Sukamaju demi kesejahteraan kita bersama”, dengan penuh semangat dan berjuta harapan terpancar dari mata Pak Lurah..

Dari barisan tengah sayap kiri, Pak Harun mengajukan diri untuk mengemukakan sesuatu.  “Pak Lurah, Pak Arman dan Pak Bambang, saya sangat tertarik dan saya yakin, bapak-bapak disini juga tertarik untuk mengembangkan dunia pertanian dan peternakan.  Memang selama ini kami belum mendapakan informasi yang cukup mengenai pertanian organik.  Saat kami melihat Pak Arman mampu melakukan sebuah pengelolaan pertanian organik, kami masih merasa ragu-ragu mengenai kemampuan kami mengembangkan pertanian organik.  Seperti yang sama-sama kita ketahui, penggunaan pupuk Urea, TSP, ZA, NPK, dan penggunaan pestisida serta insektisida kimia sudah menjadi kebiasaan kami cukup lama.  Model usaha pertanian dengan produk kimia yang kami lakukan ini saja tidak mampu mendongkrak produktifitas pertanian kita, apalagi bila kami menggunakan organik? Karena kekurangan informasi itulah, maka kami sulit untuk dapat bergerak mengembangkan pertanian seperti yang disampaikan Pak Lurah”, jelas Pak Harun.  “Terimakasih Pak Harun, sebuah pemaparan yang sangat saya hargai.  Memang gangguan komunikasi yang terjadi diantara kita membuat kemajuan dunia pertanian kita menjadi tersendat.  Seperti yang bapak-bapak alami saat ini, Pak Arman sudah membuktikan dan saya dengar juga sudah mengajak beberapa petani untuk bersama-sama beliau mengembangkan pertanian organik, tetapi bapak-bapak sekalian masih ragu, saya bisa mengerti tentang keraguan bapak-bapak”, jawab Pak Lurah.  Sambung Pak Lurah kemudian, ”karena kita semua sudah mengerti bahwa Pak Arman sudah mampu melaksanakan, termasuk potensi pemasarannya juga.  Oleh karena itu, saya berharap bapak-bapak sekalian bersedia bekerjasama untuk mengembangkan pertanian organik di Desa Sukamaju.  Bapak-bapak bersedia?”.  Pak Tarjo yang sekarang bergantian mengajukan usul, “Pak Lurah, kami setuju dan berkeinginan untuk mengembangkan pertanian organik.  Tetapi sekali lagi, kami masih sangat perlu bimbingan dan arahan agar kami memiliki hasil maksimal dan mampu secara konsisten melaksanakan pertanian organik dengan sempurna.  Saya yakin teman-teman petani juga memiliki keinginan yang sama dengan saya”.  Gumam dan anggukan antar petani yang hadir seakan mengiyakan pernyataan Pak Tarjo.  Pak Lurah dengan bijak segera mengambil sikap, “baiklah bapak-bapak sekalian, saya sangat bangga atas persamaan keinginan kita semua.  Pak Arman? Bagaimana pendapat bapak? Bisakah bapak membantu, membimbing dan mengarahkan petani di Desa Sukamaju untuk menerapkan pertanian organik?”.  Ganti Arman yang bangkit dan menyatakan, “terimakasih Pak Lurah, tentunya dengan senang hati saya akan ikut serta menularkan tentang pertanian organik yang sudah saya lakukan.  Pertemuan ini akan kita lanjutkan dengan teknis pelaksanaan pertanian organik dua minggu yang akan datang.  Selanjutnya saya mohon, Pak Bambang dapat menyampaikan pendapat dan arahan untuk kami semua”.  Tempat berdiri Arman segera digantikan oleh Pak Bambang, sambil memandang hadirin dengan takjub, dia berkata, “terimakasih bapak-bapak sekalian, bangga dan gembira saya menyaksikan sebuah kesepakatan dan persatuan yang dikembangkan pada pertemuan ini.  Kami dari Dinas Peternakan Kabupaten akan berusaha membantu bapak-bapak sekalian mengembangkan pertanian organik.  Saya akan sampaikan hal ini juga kepada Bapak Idris Sanusi sebagai Kepala Dinas Pertanian Kabupaten untuk lebih memantau perkembangan pertanian organik yang akan dikembangkan.

Akhirnya sebuah komunikasi yang baik akan menghasilkan sebuah nilai kerjasama yang memberi nilai lebih baik dan mampu memajukan dunia pertanian di Desa Sukamaju.  Melalui pertanian terpadu, maka akan diperoleh beberapa hasil, antara lain  :

1. Produk pertanian organik berkualitas tinggi dan memiliki nilai nutrisi yang menyehatkan serta memiliki daya simpan lebih baik

2.    Nilai ekonomis yang lebih baik karena harga jual produk pertanian organik yang lebih tinggi

3.  Kualitas lahan yang lebih sehat karena pemberian pupuk organik dan penggunaan agensia hayati yang ramah lingkungan

4.    Hasil samping pertanian organik yang dapat diberikan sebagai pakan ternak

5.    Hasil samping peternakan yang dapat dijadikan sebagai sumber pupuk organik bagi lahan pertanian

6.    Ketergantungan petani akan sarana produksi pertanian akan dapat dikurangi

7.    Efisiensi usaha pertanian dan peternakan karena biaya produksi yang lebih rendah




------ bersambung LAKONKU ADALAH PETANI #16